Home > Kultur > Merasakan Hatinya Orang Dayak

Merasakan Hatinya Orang Dayak

Oleh: Nur Iskandar

Relasi Melayu-Dayak dan etnis lainnya tidak pernah bisa dipisahkan oleh hati nurani yang bersemayam segenap nilai kebaikan. Oleh karena itu kita tidak boleh su’udzhon atau berburuk sangka, misalnya dekil, bakhil, jorok, kotor, bahkan bodoh dan kuper alias kurang pergaulan. Tidak. Sama sekali tidak boleh. Sebab dengan silaturahmi, saling kunjung mengunjungi, maka kita jadi saling kenal mengenal. Dan yang terbaik di mata Sang Pencipta adalah yang paling mulia perilakunya.

Citra Dayak tak bisa dipisahkan dari Betang. Sebuah rumah tinggi dan panjang yang bisa dihuni seratusan kepala keluarga. Dapatlah dibayangkan bagaimana kohesi sosial di dalamnya. Mereka saling kenal satu sama lainnya, saling tolong menolong dan gotong royong. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Oleh karena itu dasar hati orang Dayak adalah kebersamaan. Jika kita bisa hidup dalam kebersamaan ini, kita dianggap saudara kandung mereka. Tapi sebaliknya. Bagi siapa yang berani melanggar norma-norma mereka, denda adat bahkan Mandau jawabannya!

Senjata Mandau di dinding
Senjata Mandau di dinding

Saya merasakan hatinya orang Dayak. Saat akan ke Betang Malapi Patamuan dari Kota Putussibau Kapuas Hulu yang berjarak sekira 6 km arah Kedamin Selatan, saya dinavigasi Pak Lajak. Beliau Wakil Kepala Sekolah di Malapi. Pria ini tak saya kenal sebelumnya. Seorang rekan di Pontianak, pengacara, Ambo Mangan mengirimkan nomor kontaknya.

Baca Juga:  Yayasan Hamid Kesalkan Kemensos Soal Usulan Sultan Hamid Pahlawan Nasional

Pak Lajak menuntun saya via telepon. Ia bahkan menunggu di bibir sungai. Saat berjumpa senyumnya sangat ramah. Laksana sudah lama tak jumpa padahal kami belum pernah bersua.

Uluk salam terjabat erat. Lajak bercerita soal Malapi Patamuan, soal tokoh tokoh besar yang terlahir dalam struktur sosial Betang yang menyentuh politik, sosial, budaya, bahkan agama. Dia mengajak menyeberang dengan perahu bermotor. Saya turuti amar “perintahnya”.

Bermain di Betang
Bermain di Betang

Dahsyat man! Sungai membentang indah. Ini kondisi kering dengan Padang pasir yang luas. Terbayang jika air kondah apalagi pasang melimpah, so pasti indah luar biasah…

Di Betang ramai orang. Saya diperkenalkan satu persatu. Semua ramah. Tak ada muka masam di sini. Hatinya orang Dayak tercermin di muka. Hati baik, muka ceria.

Saya melihat sebagian orang bekerja di bibir sungai. Ya mandi, mencuci, mengurus sampan, mengurus jala ikan, mengangkut hasil pertanian. Mereka pekerja keras. Namun hasil pertanian itu tidak untuk kekayaan pribadi tapi bersama.

Pukat ikan
Pukat ikan

Mertua saya orang Sintang bilang, dulu saat muda, ketika ke Betang dia dioleh-olehi beras. Masing masing bilik memberi segenggam. Coba bayangkan 100 bilik?

Baca Juga:  Tambak Bertulis di Bukit Raja, Tayan

Hal itu pula terjadi kemarin, Minggu. Istri saya ditempel istri Pak Lajak. Saat pamit pulang dia berbisik, “Bu ini saya bawakan beras hasil panen Betang,” katanya seraya berbisik. Tak soal istri dan mertua saya berkerudung atau muslim, di Betang tak ada sekat agama.

Panorama sungai depan rumah panjang Malapi Patamuan
Panorama sungai depan rumah panjang Malapi Patamuan

Istri dan mertua senang. Cipika cipiki. Ala perempuan bingits. Rasa cinta di hati yang menggelora. Inilah kebersamaan kita di Kalimantan saudara saudara.

Kami pamit. Uluk salam kami tempelkan uang yang tak seberapa. Setengah mati mereka menolak dan setengah mati juga kami memaksa. Itulah kalau bersaudara. Mati Matian menikmati cinta. Amboi indahnya Betang dan kebersamaan. *

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

Check Also

We Stand for Sultan Hamid II

Oleh: Anshari Dimyati Dalam rangka menyambut Hari Pahlawan 10 November yang akan datang, kami Yayasan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *