Community

Kenapa Pakai “SULTAN”

Kenapa Pakai “SULTAN”

Oleh: Ustadz Rendi Sahputra

Tulisan saya tentang konsep Kesultanan Masjid sebenarnya bukan hanya narasi, tapi sudah terjadi di sebuah masjid di negeri ini. Di Masjid Kapal Munzalan Pontianak, Kalimantan Barat.

Mengapa saya memakai istilah kata “Sultan”, karena fungsi merawat ummat itu adalah fungsi seorang Sultan. Jika saya buka narasi dengan mendorong generasi muda hebat untuk jadi takmir, nanti imajinasi nya cuma kelola kotak infaq. Jadi salah tangkap.

Kata “Rakyat” itu dari bahasa arab,

كلكم راء وكل راء مسئول عن رعيته

“Kullukum Ra’in Wa Kullu Ra’ in Mas’ulun ‘An Ra’iyyatihi”

”Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan tiap-tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.”

Jadi kata “ro’in” disini sebenarnya akar dari kata Rakyat. Yang disini diartikan pemimpin. Sebenarnya arti dasarnya adalah pemelihara, maka kita sering mendengar kalimat “ri’ayatul ummat”, atau merawat ummat.

Maka rakyat itu adalah sebuah komunitas yang harus dirawat, harus diasuh.

Pemimpin gerakan kami, sekaligus Qiyadah dari Masjid Kapal Munzalan, Kiyai Luqmanulhakim, selalu mengingatkan :

“Hari ini ummat membutuhkan da’i yang mengasuh, yang mengajar sudah banyak, mu’allim sudah banyak, tapi sebagai Murobbiy, yang merawat, yang membesarkan hati, yang mengurusi, itu sedikit, antum harus memposisikan diri mengasuh ummat mulai hari ini.”

Maka itulah semangat dari Masjid Kapal Munazalan.