in

Kenapa Pakai “SULTAN”

Ustadz Rendi Sahputra

Oleh: Ustadz Rendi Sahputra

Tulisan saya tentang konsep Kesultanan Masjid sebenarnya bukan hanya narasi, tapi sudah terjadi di sebuah masjid di negeri ini. Di Masjid Kapal Munzalan Pontianak, Kalimantan Barat.

Mengapa saya memakai istilah kata “Sultan”, karena fungsi merawat ummat itu adalah fungsi seorang Sultan. Jika saya buka narasi dengan mendorong generasi muda hebat untuk jadi takmir, nanti imajinasi nya cuma kelola kotak infaq. Jadi salah tangkap.

Kata “Rakyat” itu dari bahasa arab,

كلكم راء وكل راء مسئول عن رعيته

“Kullukum Ra’in Wa Kullu Ra’ in Mas’ulun ‘An Ra’iyyatihi”

”Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan tiap-tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.”

Jadi kata “ro’in” disini sebenarnya akar dari kata Rakyat. Yang disini diartikan pemimpin. Sebenarnya arti dasarnya adalah pemelihara, maka kita sering mendengar kalimat “ri’ayatul ummat”, atau merawat ummat.

Maka rakyat itu adalah sebuah komunitas yang harus dirawat, harus diasuh.

Pemimpin gerakan kami, sekaligus Qiyadah dari Masjid Kapal Munzalan, Kiyai Luqmanulhakim, selalu mengingatkan :

“Hari ini ummat membutuhkan da’i yang mengasuh, yang mengajar sudah banyak, mu’allim sudah banyak, tapi sebagai Murobbiy, yang merawat, yang membesarkan hati, yang mengurusi, itu sedikit, antum harus memposisikan diri mengasuh ummat mulai hari ini.”

Maka itulah semangat dari Masjid Kapal Munazalan.

Mengapa “karyawan masjid” sampai 300 orang? Karena masjid ingin memastikan layanan kepada ummat.

Mengapa belasan miliar dikumpulkan per bulan? Karena beras saja untuk pengelolaan Masjid Kapal sendiri sekitar 100 ton. Bersama gerakan nasional GIB jadi 518 ton sebulan. Ke pondok-pondok.

Mengapa Masjid buat sekolah, dari TK sampai S3 nantinya, ya untuk mendidik generasi jamaah. Basisnya waqaf, jadi masuknya bisa gratis. Tidak membebani.

Mengapa masjid sedang pembebasan lahan dan kerjasama dengan beberapa pengusaha property? Karena Kiyai sebagai Sultan pengasuh ummat memikirkan ketersediaan hunian bagi jamaah, terutama SDM internal masjid.

Mengapa Masjid membebaskan hektaran lahan di Kalimantan Barat? Karena Masjid memikirkan ketersediaan pangan untuk jamaah.

Baca Juga:  Jarrat Tangan

*

Ini foto linimasa natural dari mas Yudi Dan Firda Paskas Jogja yang sedang studi banding ke Masjid Kapal Munzalan.

Bisa dilihat bagaimana ibu-ibu mengantri sembako. Ini bukan kegiatan selebrasi sekali setahun. Untuk sekedear jepret letak di mading masjid. Ini kegiatan pekanan insyaAllah. Tiap jumat masjid bagi sembako.

Spirit Gerakan Sembako Jumat ini adalah arahan dari Kiyai Luqman yang sedang digarap bro Rangga Wibawa di Bogor. Kak Nirwana Tawil juga melakukannya secara personal di Balikapapan, Sleman dan Makassar. Kerjasama dengan masjid-masjid.

Jadi masyarakay dhuafa dirawat oleh masjid. Diperhatikan oleh masjid. Masjid hadir solve the problem.

Artinya beginilah masjid seharusnya memposisikan diri.

Beginilah Imam Masjid seharusnya memerankan fungsi di masyarakat : “MENGASUH UMMAT”, – merawat rakyat –

Rakyat itu bukan slogan “orang kiri”, rakyat itu serapan bahasa arab yang artinya harus di rawat. Harus di ri’ayah.

*

Maka kembali lagi ke beberapa rangkaian tulisan saya pada beberapa momen terakhir ini,

Negeri ini butuh SULTAN. Sultan yang memutuskan untuk mengabdi merawat ummat dengan segenap daya dan upayanya.

Ada 85.000 desa di negeri ini. Ada 270 juta rakyat. Anggaplah kita butuh 100.000 titik kesultanan masjid, itu masing-masingnya cukup kelola 3.000 jamaah, sudah cover semuanya.

Masjid Kapal Munzalan bahkan melayani dan membagi bantuan ke masyarakat non muslim di sekitar masjid. Gak masalah kok. Boleh kita rawat juga. Tetap dengan agamanya masing-masing gak papa.

Maka kembali lagi ke gagasan utama,

Negeri ini butuh 100.000 Sultan muda. Pemimpin lokal yang memimpin komunitas kecil, di wilayah fokus terbatas, maka dengan demikian potensi dan kepengurusannya akan maksimal.

1 Sultan muda mulai membangun masjid. Sang sultan mendorong tegaknya masjid, mengajak ummat sujud di masjid.

Setelah itu Sang Sultan mendidik ummat, memimpin halaqah subuh, mengajarkan Al Quran, memberikan inspirasi bagi masyarakat.

Setelah itu Sang Sultan menyatukan ikatan sosial, dalam balutan jamaah Masjid Kesultanan. Menjadikan jamaah sebagai warga yang harus dirawat dan ditumbuhkan.

Baca Juga:  Mindset Wakaf Sejak Dini Tantangan dari Seorang Bupati

Setelah segenap potensi kekuatan jamaah diberdayakan dan digerakkan untuk sama-sama membangun komunitas internal jamaah. Dari jamaah, kembali ke jamaah.

Yang bisa manajemen duduk di manajamen.
Yang bisa nukang ya jadi tukang, bantu bangun infrastruktur.
Yang bisanya ngajar ya ngajar.
Yang bisanya masak ya masak.
Yang bisanya digital online sales ya bantu jualan produk masjid.
Yang bisa berproduksi ya dibantu supaya bisa berproduksi.

Lalu..m

Anak-anak jamaah maajid disediakan pendidikan gratis.

Warga yang sudah berkarir di pekerjaan dan bisnis ditambah kompetensinya, ditingkatkan kapasitasnya.

Ibu rumah tangga jamaah masjid diberi pembekalan keterampilan. Dimaksimalkan potensinya, tanpa harus meninggalkan hunian atau kawasan.

Anak-anak muda usia produktif dibekali dengan kompetensi skill yang jelas untuk hidup.

Asset waqaf masjid digerakkan sebagai platform ekonomi jamaah. Bisa jadi perkebunan, pertanian, industri pengolahan makanan.

Divisi usaha masjid bisa membangun pusat distribusi barang untuk “memasukkan devisa dagang” kedalam pusaran ekonomi masjid.

Divisi amal sosial masjid bisa memaksimalkan kedermawanan banyak pihak untuk kemudian menjadi bahan bakar cost layanan publik.

Sekali lagi, negeri ini butuh Sultan Muda yang berani memimpin, mengasuh, dan mengabdikan dirinya untuk ummat.

*

Bukankah kesultanan di negeri ini dulu tercipta juga demikian.

Ada satu sosok yang fikirannya dan hatinya berada diatas rata-rata orang disekitarnya, sehingga ia dijadikan pelita oleh rakyat.

Akhirnya rakyat manut pada sosok tersebut, maka disebutlah Raja, Sultan, yang menghiasi seluruh wilayah di Nusantara ini.

Konsep ini juga gak ganggu pemerintah, Yayasan Masjid tetap legal, transaksi bisnis PT yang dimiliki yayasan juga bayar pajak, jamaah masjid KTP dan Passpor nya NKRI. Gak ada yang diganggu.

Malah negara terbantu dengan lahirnya kesultanan masjid.

Bismillah…

Semoga lahir sultan-sultan muda di setiap masjid yang sudah tegak, dan lahir sultan-sultan muda yang berani menoreh pembangunan Kesultanan Masjid dari awal.

Ummat butuh diasuh, Rakyat butuh dirawat, bangsa ini rindu kebangkitan.

URS – Rakyat

Written by teraju.id

fgd-fisip-untan

Sukses Laksanakan Forum Group Discussion, BEM FISIP Diapresiasi

flayer La Bella Italia 3

Belajar Intercultural Learning di Binabud Yuk…