Opini

“Mencari Angin” di Kincir Angin di Negeri Kincir Angin

“Mencari Angin” di Kincir Angin di Negeri Kincir Angin

“Namun, gelombang imigrasi besar-besaran ke Belanda bukan tanpa akibat. Belanda menghadapi masalah rumit berkaitan dengan kebijakan imigrasi. Mulai soal kriminalitas, multikulturalisme, sampai integrasi”, kata Peter. “Sekarang, kebijakan imigrasi Belanda sangat ketat”, tegas dia.

Tak terasa sudah siang, kami melanjutkan perjalanan ke arah Erasmusbrug, jembatan serupa angsa yang sedang mengibaskan sayap-sayapnya. Di Boompjeskade, kami naik Kapal Nahalennia yang bertingkat dua.

Kapal berlayar menyusuri Sungai Nieuwe Maas yang lebarnya mencapai 409 meter, menuju Sungai Lek yang mengalir melewati Desa Kinderdijk. Perjalanan kapal dari Rotterdam ke Kinderdijk memakan waktu sekitar satu jam.

Matahari yang pucat, angin berembus kencang dan kapal bergoyang dari satu sisi ke sisi lain. Noordereiland, sebuah pulau kecil di tengah Sungai Nieuwe Maas, salah satu pulau buatan di Belanda. Untuk mencapai pulau itu, bisa lewat dua jembatan, Willemsbrug atau Koninginnebrug.

“Dulu, ketika baru dibangun tahun 1800-an, kebanyakan pelaut yang tinggal di situ”, kata Alexandra. Belanda memang terkenal sebagai penakluk air. Setelah banjir besar pada tahun 1953, yang menelan ribuan korban jiwa dan menimbulkan kerusakan besar, Belanda sangat serius menangani manajemen air di negerinya.

Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *