Home > Berita > Tugu Langsat “Backbone” Purnama

Tugu Langsat “Backbone” Purnama

teraju.id, Punggur – Siapa sangka di belakang wilayah pinggiran Kota Pontianak yang bersebelahan dengan Purnama ada sebuah tugu mewah dan indah? Tugu Langsat?!

Jika Anda berada di jantung Kota KhaTULIStiwa dan berada di kawasan GOR Pangsuma, ambillah jalur jalan ke Purnama untuk menikmati taman Tugu Langsat tersebut. Lalu telusuri jalan Purnama yang luas, lebar dan bola mata kita dimanjakan oleh pemandangan indah di sepanjang jalur kiri kanannya. Parit Purnama bersih dan gedung-gedungnya semakin hari semakin tumbuh megah.

Jalan Purnama sepanjang lebih kurang 4 km itu akan berujung pada tanah tapal batas yang ditandai dengan pintu air. Pintu air ini untuk menahan limpasan banjir kiriman Sungai Punggur. Terutama kalau hujan deras turun menindas.

Dari ujung jalan terakhir aspal tersebut kita akan memasuki Desa Parit Leban Hulu. Di sini aroma pertanian menyeruak ke permukaan. Tanaman jenis-jenis pertanian berumur puluhan tahun atau bahkan seratusan tahun sehingga sangat rimbun. Untuk tanaman mencapai seratusan tahun seperti durian, batang pohonnya sebesar pelukan dua orang dewasa.

Baca Juga:  Dapatkan Rumah Murah dan Berkualitas di Ujung Serdam, Parit Buluh Kubu Raya

Bunga kopi, kelapa dan pinang lembut meruap dengan aroma mewangi. Sepanjang jalan seolah hidung kita mencium wangi parfum Bulgari. Sementara di depan rumah pada umumnya terhampar biji pinang yang dikeringkan, kopra, atau kopi. Maka halaman rumah yang luas menjadi identitas tersendiri.

Rumah penduduk di Parit Leban Hulu jarang jarang. Tetapi struktur bangunannya kuat. Tampak bahwa daerah “Backbone” Kota Pontianak ini sejahtera. Petani mampu membeli material yang berkualitas. Selain itu, jika ada perkawinan, biasanya juga mengundang band papan atas. Suara salon yang bersusun sirih tersebut bisa menembus desa-desa tetangga. Semarak. Meriah. Dan satu yang penting: Bahwa mereka cukup kaya untuk membuat pentas seni dan budaya yang turun temurun. Anda tentu beruntung jika dapat menikmati sensasi tersebut.

Beberapa rumah bahkan tampak mewah tak kalah dengan bangunan di jantung Kota KhaTULIStiwa. Tidak kalah dengan perumahan lux tipe 80 atau 120. Apalagi pekarangannya pun luas tak sepadan dengan rumah tipe 80 atau 120 perkotaan yang hanya cukup bagi parkir dua kendaran roda empat di dalamnya. Di beberapa rumah pengumpul pinang, kopi dan kelapa bahkan ada mobil bermerek seperti CRV, Jazz, hingga Innova. Hal ini indikator kerja tani yang “berdasi”.

Baca Juga:  Event Perdana International Dragon Boat di Pontianak

Hasil pertanian di Parit Leban Hulu sama dengan desa berikutnya menuju Kota Punggur, yakni Desa Parit Leban Hilir. Kontur pertaniannya sama. Rumah penduduknya sama.

Panjang jalan kedua desa ini masing-masing sekira 3-4 km. Beberapa bagian dapat bantuan pemerintah sehingga sudah dirabat beton. Ada pula yang masih hamparan batu pengerasan dan ada pula yang sudah diaspal hot mix.
Di beberapa titik lokasi kita bisa menemui beberapa sekolah negeri dan juga masjid. Di kawasan pendidikan dan ibadah ini pada umumnya lebih padat penduduk.

Ciri-ciri kita mencapai Jalan Raya Punggur ditandai dengan jalan beraspal licin. Perumahan dan pertokoan juga semakin padat. Dengan sendirinya jalanan yang semula sepi jadi ramai dan relatif macet.

Dari perempatan Jalan Raya Punggur tersebut hanya beberapa ratus meter kita sudah berjumpa Kantor Desa Punggur Kecil. Di depan kantor desa inilah terpajang Tugu Langsat yang menjadi kebanggaan warga Punggur Kecil sebagai salah satu “tulang punggung” (Backbone) perekonomian Kota Pontianak. Tepatnya jika dilihat dari aspek komoditas pertanian kopi, kelapa, pinang hingga langsat dan durian. Langsat dan durian Punggur memang sangat terkenal.

Baca Juga:  1000 Guru Kalbar Gelar Teaching and Giving 3 dan Pengobatan Gratis di Kubu Raya

Anda ingin menikmati panorama Purnama-Punggur dengan Tugu Langsat? Silahkan mencoba dengan sepeda, motor, atau bahkan kendaraan roda empat. (Nuris)

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

Check Also

“Kontribusi Masyarakat Adat untuk Indonesia”

Siaran Pers Koalisi Masyarakat Sipil Kawal RUU Masyarakat Adat teraju.id, Jakarta, 25 Februari 2020 – …

teraju.id