Opini

Jaga Mendu, Upaya Menjaga Otentitas Budaya Melayu

Jaga Mendu, Upaya Menjaga Otentitas Budaya Melayu

Mendu adalah seni peran dalam bentuk teatrikal yang diiringi atau disertai dengan nyanyian dan/atau tarian di dalamnya. Dengan beriring tabuhan alat musik khas (rentak dan alunan) Melayu, serta ditampilkan karakteristik pemeran teater tersebut. Sejarahnya dalam riwayat klasik (tradisional) pentas peran ini berasal dari Hikayat Dewa Mendu, dengan menggunakan Bahasa Melayu Mendu dan Pesisir.

Mendu dipentaskan secara berbabak. Pemeran Mendu harus memainkan peran yang sama secara terus-menerus. Dengan menceritakan rangkaian kisah sesuai tema yang diangkat. Lalu pemeran dengan karakteristik yang beragam akan menampilkan seni perannya. Pusat kegiatan Mendu adalah di Bunguran dan meluas ke Natuna, Anambas, Sungai Ulu, Pulau Tiga, Midai dan Siantan (Kalbar).

Baca Juga:Asa Generasi

Awalnya teater Mendu dirintis oleh Nek Ketol. Teater ini kemudian dikembangkan oleh muridnya yang bernama Ali Kapot. Muridnya ini lalu membentuk kelompok teater Mendu di Desa Malikian, Kabupaten Mempawah. Kelompok ini terdiri dari tiga orang yaitu Ali Kapot, Amat Anta dan Achmad. Mereka kemudian mulai mengajarkan Mendu kepada masyarakat di desa lain pada tahun 1837.