Ia bertekad membeli sepeda motor setelah melihat prospek jualan ikannya. Ditambah faktor makin jarangnya oplet yang melayani trayek dari rumahnya ke daerah ‘teritorial’ jualannya.

Tiap sore, ia dan suaminya yang memang berasal dari Sungai Kakap dan bekerja di bagan selalu menunggu kapal-kapal nelayan yang tiba dari melaut. Tak banyak jenis ikan yang mereka beli. Ikan yang sudah dibeli disimpan di box stereoform ukuran sedang dan diisi es batu untuk menjaga kesegarannya, karena akan dijual keesokan paginya.

“Jam 05.30 biasanya saya sudah berangkat dari rumah di Kakap membawa ikan gembong, kakap, ikan merah, bawal, dan sotong. Ikan-ikan inilah yang banyak diminati pembeli,” lanjut Bu Desi bercerita.

“Alhamdulillah, ikan yang saya bawa jarang yang tersisa, selalu habis,” sambungnya.

Bagaimana dengan penjualan ikannya di masa pandemi ini? “Alhamdulillah nyaris tidak ada pengaruh, karena tiap hari kan orang perlu makan ikan. Buktinya, dagangan saya jarang ada yang tersisa.”

“Yang penting saya sudah usaha, hasil akhir saya serahkan sama Allah. Berapa pun yang laku, itulah rezeki yang Allah kasih untuk keluarga saya,” jawabnya, mantap.

Dari Bu Desi kita belajar kegigihan dan keyakinan sebuah usaha yang insya Allah penuh barakah.

“Ikan segar… ikan segar…”