Yang saya ingat beliau ada bilang begini kepada saya, “Bung Ben, jika Masjid Kapal Munzalan yang kecil dan berada digang sempit ini mampu menyelesaikan kebutuhan pangan bagi ratusan ribu orang di 22 provinsi, maka hasilnya akan sangat luar biasa jika hal yang sama bisa dilakukan oleh 100 masjid saja. Padahal jumlah masjid di Indonesia diperkirakan sekitar 800 ribu. Masyaallah-kan kalau semua bisa bergerak seperti Munzalan?” Demikian hatur Gurunda Rendy Saputra.

Dan saya sepakat dengan pendapat beliau. Masyaallah. Semangats!

“Ok, trus apa yang mesti kami lakukan?” Tanya saya kepada penulis yang sangat produktif ini.

“Ayo Munzalan bikin lembaga pengembangan masjid. Saya usul konkrit. Lembaganya dinamakan Masjid Enterprise saja. Misinya melakukan riset dan menyelenggarakan pendidikan bagi para pengelola masjid di Indonesia,” ajak Kang Rendy.

Pendek cerita, usulan itupun kemudian saya sampaikan kepada Gurunda Ustaz Luqmanulhakim dan Pimpinan Masjid Kapal Munzalan. Dan alhamdulillah Gurunda Ustaz Luqmanulhakim serta Pimpinan Masjid menerima usulan itu.

Maka sayapun diminta untuk menyiapkan lembaga itu sesuai dengan maksud Kang Rendy. Maka, dengan izin Allah lahirlah sebuah lembaga yang diberi nama persis dengan usulan Kang Rendy, Masjid Enterprise.

**

Bismillah, melalui Masjid Enterprise ini kita akan melakukan riset terhadap masjid-masjid di nusantara yang dikelola secara progressif, seperti Masjid Kurir Langit di Barru, Sulsel, Masjid Jogokaryan di Jogja. Atau Masjid-masjid progressif yang pernah hadir di masa lalu, seperti Masjid Demak yang melahirkan Negar Demak Bintoro, Masjid Kota Gede yang melahirkan Negara Mataram Islam, juga masjid-masjid lainnya yang melahirkan puluhan sentra-sentra industri peradaban di nusantara yang menggetarkan.