Beberapa saat kemudian, suara keriuhan dan tumpahan air terdengar dan Desty pun berjalan membuka pintu. Terlihat di depan kamarku beberapa teman sebaya sedang menjinjing ember berisikan gayung, galon kosong dan ada juga yang membawa botol kosong.

“Ehm .. pastilah tuh lagi nak nadah aek,” ucapku membatin.

Begitulah jika hari hujan. Apalagi air keran mati. Semakin menambah kekuatan anak Mahad untuk sehe menadah air. Meskipun harus menadahnya menggunakan gayung sedikit demi sedikit lalu memasukkannya lagi ke dalam ember yang di atasnya ada kain sebagai penyaring. Setelah penuh ember berisikan air hujan itu dimasukkan lagi ke dalam galon.
Aku pun bergegas menuju pintu dan menongolkan kepalaku sedikit mengintip keluar melihat suasana keributan mengantri air hujan.

“Sehe .. mereka tuh nadah air, tapi memang sih air keran lagi mati. Terlebih lagi air galon anak Mahad sudah pada kehabisan,” ucapku membatin.

Melihat mereka, Desty pun meminta botol kosongku. Kami juga ikut mengantri. Tapi malangnya mereka yang menadah air tak kelar-kelar juga. Terlihat air hujan yang tadinya deras kini semakin berkurang derasnya. Kukira sebentar lagi akan mereda. Kebetulan di depan samping kamarku saja yang bisa ditadah. Hanya tempat satu-satunya.

“Nah, ngantrilah ente, ana nak facebookkan lok,” bilang Desty sembari mengembalikan dua botol kosong berukuran besar padaku.

Aku kembali memperhatikan mereka. Sepertinya ini tak kunjung usai sampai segala tempat sebagai wadah air mereka itu penuh. Maklum sepertinya sampai besok pagi air keran takkan hidup. Mereka mungkin berinisiatif untuk pakai mandi besok pagi.