“Eh, Nanda isikanlah?” mintaku sedikit memohon padanya karena ia paling berkuasa sejak tadi menadah air hujan.
Nanda memberi.
“Alhamdulillah,” syukurku membatin setelah menerima air di dua botolku ini.
“Yeh biselah untuk cuci muke same mandi nih Des,” cetusku ke Desty.
“Hah … Tut, Tut,” balasnya. Karena airnya tak mungkin cukup untuk pakai mandi.
Beginilah keadaan saat kami kekurangan air. Tapi tak menciutkan nyali untuk tetap berusaha mencari air. Tidak hanya menadah air hujan. Kami juga mengangkut air dari tempat lain. Namun, keinginan untuk tetap berada di asrama tetap masih terpatri hingga saat ini. (*)
