“Saya sudah menjadi PNS di Kecamatan Entikong 19 tahun. Sebelumnya dinas di Kalbar wilayah utara,” kata Ayu. Sementara saya sejak mengeduk ilmu pertanian di kampus sudah aktif di bidang pers. Seusai kuliah pun berkhidmat di bidang jurnalistik.

Di gerai KUB Bageri inilah saya semakin menyadari kekayaan “intan hitam” perbatasan. Yakni lewat nikmatnya racikan kopi lada hitam maupun kopi jahe merah, dua produk yang sudah dipatenkan Ayu bersama sanggar binaannya. Sekaligus terbayang, jika para alumni seenerjik “Nyit-nyit” maka dalam membangun Borneo Barat tak terperi hasilnya. Termasuk pembangunan ekonomi wilayah perbatasan.

“Komoditas pertanian di pebatasan sesungguhnya luar biasa. Butuh inovasi dari kita untuk meningkatkan nilainya,” kata Ayu yang baru saja pulang dari Pendopo Gubernur di mana Wakil Gubernur, Ria Norsan pun kepincut dengan citarasa kopi lada hitam maupun kopi jahe merah buah tangan pengrajin di kawasan perbatasan Entikong.

***

lada adalah komoditas primadona di kawasan perbatasan. Harga tertinggi bisa mencapai Rp 110.000 per kilo. Tapi kini di tengah harga dolar dan rupiah bagaikan langit dan bumi (kurs 1 dolar = 15.000), harga lada pun terjun bebas. Per kilo hanya dihargai Rp 20.000/kg.

“Kalau 50.000 per kilo masih lumayan, kami bisa merawat kebun. Kalau 20.000 hanya bisa buat menanak nasi di dapur,” ungkap ibu-ibu di sekolah PAUD Kipet Abdurrahman, Desa Puntikayan, Kecamatan Entikong.
“Pohon lada banyak yang mati,” sambung ibu-ibu lainnya. Kondisi semakin terpuruk karena di border Jiran, petani Malaysia juga panen raya lada. Kualitas lada Malaysia lebih baik karena sistem pertanian dan kredit tani mereka lebih lunak. Mutu SDM Malaysia juga tinggi ketimbang Indonesia.