“Ow…di darat sanak! Tapi tak ade orang e”, kata 2 Ibu-Ibu yang sedang jalan dari arah darat menuju laut.
“Baleklah kau agik, ‘kan ade di rumah kau,” kata seorang ibu-ibu mengisyaratkan sesuatu.
Akhirnya, kami dipandu hingga sampai ke rumah suplayer seafood. Benar saja, di rumahnya masih banyak seafood yang belum dijual. Sudah dikemas dalam kantong plastik putih kecil. Per kantong Rp. 7.000. Kalau membeli 3 kantong sekaligus, Rp. 20.000.
Kami beli 2, tengkuyung panjang atau tengkuyung sedot serta tengkuyung bulat. Kami sama-sama belum mengerti cara mengolah seafood yang kami beli. Sambil memilih, kami bertanya pada penjual bagaimana cara mengolahnya.
Penjualnya memberi penjelasan singkat. Setelah kami rasa cukup mengerti, kami pulang. Sudah tak sabar ingin berexperimen dengan sesuatu yang baru. Sesampainya di rumah, kami olah tengkuyung panjangnya. Masak asam pedas. Benar saja, ternyata rasanya, ajib…
Saya dan Kak Yuyun sampai bekeringat memakannya. Maklum, selain pedas, memakan tengkuyung sedot ada tekniknya tersendiri. Jika tekniknya tidak pas, alhasil isi tengkuyung tak berhasil keluar. Dan finaly, kesampaian juga hajat kami. Memasak tengkuyung sedot dari Parit Rimba. Alhamdulillah. (*)
