Petani suku Dayak Lundayek dalam mengolah pertanian masih menggunakan alat tradisional seperti membajak sawah dengan kerbau kemudian pupuk yang digunakan tidak memakai zat kimia melainkan pupuk kandang dari pmeledek yakni kegiatan membersihkan sawah dari gulma, dan jerami bekas pertanaman yang dilakukan secara gotong royong sebelum ditanami.
Proses pembersihan dari gulma dan jerami kemudian sebelum benih padi disemaikan terlebih dahulu benih tersebut dibawa para petani ke gereja untuk diberkati agar hasil panen dapat meningkat serta tanaman padi aman bebas dari hama atau penyakit tanaman. Acara pemberkatan benih ini disebut Pade fra.
Pasca menanam benih padi di lahan persawahan dilakukan perawatan padi, namun terkadang selama perawatan tanaman padi diserang hama tikus, maka untuk mengusir tikus dilakukan acara ngelabo labo atau gropyokan hama tikus yang dilakukan sebelum penanaman padi.
Rangkaian prosesi acara sebelum penanaman padi terutama membasmi hama cukup panjang tidak hanya membasmi hama tikus dengan acara gropyokan, melainkan juga dengan membasmi hama burung yang biasa merusak tanaman padi dengan cara ngelabo keruak.
Budaya tani masyarakat Suku Dayak Lundayek, Krayan memang menarik salah satunya saat panen padi telah tiba hingga dilakukan acara ngerupen sebagaimana acara paleo nibu pade yang dilakukan secara gotong royong melibatkan petani lainnya kemudian dalam memanen padi meraka melakukan secara bergantian.
