Sepeda mini merah Bang Noh melewati geretak depan rumah seperti kilatan masa kecil yang tak pernah hilang dari ingatan. Angin membelai lembut pepohonan di halaman. Dalam bayangan mata kecilku, siang itu bukan sembarang siang. Itu adalah waktu ketika bapak biasanya tidur siang, dan firasatku kuat bahwa Bang Noh sedang pulang dari petualangannya.
Bang Noh adalah anak muda Sungai Raye Dalam yang paling jago bersepeda. Konon, ia dijuluki “campin” karena berkawan dengan Maruki Matsum, teman sekolahnya di Mujahidin. Dari Maruki itulah, Bang Noh belajar trik-trik hebat: melepaskan tangan sambil mengayuh, mengangkat stang tinggi-tinggi, dan melaju kencang tanpa goyah sedikit pun. Kadang aku membayangkan, sepeda Bang Noh bukan hanya kendaraan, tapi semacam kuda balap dalam arena Formula 1.
Di kampung, aksi Bang Noh menjadi tontonan dan pelajaran. Bahkan aku sendiri, dengan sepeda udangku yang kini sudah patah, mencoba meniru setiap gayanya. Di depan rumah, ada papan tanjakan tempat aku dan teman-teman berlatih. Namun tidak semua anak bisa seperti Bang Noh.
Kampung Serdam terbagi dua: budak ilek dan budak ulu. Budak ilek tinggal di arah laut, sedang budak ulu dari batas rumah Udin Wak Manta hingga rumah Tok Tarik. Tapi semuanya tunduk pada satu guru besar sepeda: Bang Noh.
Aku belajar dari caranya melewati geretak tanpa suara. Pedal harus dihentakkan dari rumah Wak Abu-Wak Lidek, dan saat sampai depan rumah Pak Kitut, ban harus pas berada di tengah papan kayu belian. “Sebab di bagian tengah ade tulang kayuk beliannye. Papan tak akan begetar acam senar gitar,” kata Bang Noh suatu hari, mengeluarkan teori sepeda dengan serius layaknya insinyur jembatan.
Gerakan tubuhnya ketika bersepeda itu ibarat penari bejepen: bokong sedikit terangkat, kaki satu berdiri di atas engkol, satu lagi santai. Saat menuruni tanjakan jembatan melengkung seperti huruf U terbalik, dia mengerem dengan hati-hati. Suara rem nyaris tak terdengar. Karena kalau terlalu berisik, bapak bisa bangun dari tidurnya.
Maruki Matsum melatih Bang Noh di Lapangan Mujahidin, tempat ia berlatih melaju dalam senyap. Bahkan ada papan loncatan yang membuat sepeda bisa terbang, seolah itu burung layang-layang.
Ketika sepeda Bang Noh turun dari geretak sore itu, dari balik jendela aku langsung memberi kode: jari menunjuk ke bawah tojang. Itu tanda. Bang Noh mengangguk. Ssst! Sepedanya langsung diselipkan di bawah pohon bunga. Di balik pohon puring merah, berdiri Bougenville ungu dengan duri setajam jarum. Pernah aku berdarah karena tertusuk durinya. Wak Jemah menyebutnya “makdarah colok”.
Bang Noh paham situasi gawat darurat. Ia tak masuk lewat pintu depan, tak juga dari dapur, melainkan lewat jalur rahasia: bawah kolong rumah. Sekeping papan di sudut ruang tamu memang sengaja tidak dipaku. Pintu kecil inilah yang jadi penyelamat.
Layaknya prajurit Kopassus, Bang Noh merayap masuk. Tiba-tiba kepalanya muncul dari bawah papan. Aku menyambut tas dan buku-bukunya. Lalu, bagai bayangan siluman, ia lenyap ke kamar tanpa tirai bergoyang.
Bapak, yang latar belakangnya guru agama alumni PGA, dikenal sangat lihai. Walau pura-pura tak tahu, semua gerak-gerik anak-anaknya tercatat. Katanya, waktu muda pernah berguru silat dan punya banyak jimat—yang kemudian dibakar karena dianggap syirik.
Ritual maghrib di rumah kami sudah seperti protap militer. “Nor… Kandar… maghreb!” seru bapak setengah berteriak. Kami semua paham tugas masing-masing: mandi cepat, ganti piyama, siap azan dan qomat. Bapak imam. Kami semua makmum.
Sejadah pun punya cerita. Aku punya yang paling tipis dan kuning, warisan dari bapak. Kak Ita yang perempuan dapat yang lembut dan merah manggis. Bang Noh? Sejadah hijau spesial, sebab dia anak sulung.
Doa setelah salat seperti sandiwara kecil. Gerakan tangan bapak yang tak menoleh, menjadi isyarat: Bang Noh harus mulai baca doa pembuka. Aku penutup.
Setelah salat, semua kembali ke rutinitas: makan malam bersama, membentang tikar, cuci piring, menyimpan ke lemari. Lalu rumah hening. Hening yang menyeramkan. Biasanya, kalau pagi ada kejadian yang bikin bapak marah, malamnya kami semua bisa kena getahnya.
Lalu bapak bertanya, “Oi, ade nengok pendeng aku ndak?” Kami semua saling menatap. Iya. Ini isyarat buruk. Bang Noh pun tahu. Dia sudah siap dengan training hijau, kaus kaki panjang, dan wajah penuh strategi.
“Ape salah kao?” tanya bapak. “Tau Pak.” lirih jawabnya. Semua seperti sidang terbuka. Dari siapa, ke mana, berapa habisnya uang—semua ditanya. Ternyata uang SPP dua bulan habis untuk “campak gelang” di PRP. Hadiah: lemon sebotol dan Bimoli sekilo. Waktu itu kami semua senang. Ternyata itu hasil penyalahgunaan anggaran.
Plak-plak-plak. Rotan melayang. Aku pikir aku bebas. Tapi prinsip bapak: satu salah, semua kena. Kak Ita yang tidak tahu apa-apa pun kena.
Bang Noh yang aktor ulung, bersandiwara. Sebelum rotan menyentuh kulitnya, ia sudah menjerit-jerit. Aku hampir tertawa, tapi menahan. Namun bapak tahu. “Tadak nanges kau yeh? Malah ketawak?” Katanya sambil ikut nyengir.
Rotan, pendeng, dan cubitan mengalir bagai ritual keluarga. Tapi kami tahu, itu tanda sayang. Bapak selalu memukul setelah perut kami kenyang. Tidak pernah sebelum makan. Sebab katanya, kalaupun kami ngambek, perut sudah diisi. Tak ada risiko pingsan karena lapar.
Usai semua, kami masuk kamar. Di sanalah aku tahu, Bang Noh memang aktor tulen. Ia sudah siap. Training panjang, baju panjang, kaus kaki bola semua jadi pelindung. Bahkan celana pendek dan dalam pun masih utuh. Dia pura-pura saja. Sandiwara Radio Tutur Tinular hidup di rumah kami.
Pelajaran malam itu sangat berharga: taktik dan strategi penting sebelum sebuah peristiwa!
Aku terbangun, menatap langit dari kasur besi. Awan putih berarak. Aku harus lulus ujian. Bapak guru di SMPN Teladan. Aku sudah janji pada Pak Sam. Aku ada di buku hitam.
Dengan semangat, kuturuni tempat tidur. Mengenakan baju Megaloman, kuambil tali sampan Pak Usu. Dengan pengayuh Wak Bayo, aku mendayung cepat. Melewati dermaga Wahdah, rumah Wak Abu, rumah Wak Majed, rumah Wak Bidding, Wak Leddang, Tok Itik…
Sampai ke rumah Mak Ento. Tali kutambat. Sabun cap Sunlight, sabut kelapa, dan sabun B-29 masih di tangga mandi. Aku naik papan belian, sambil bersiul penuh semangat.
Di atas, Pak Usu mengikat keladi sayur. “Pak Usu, sampan dah kamek balekkan yeh. Terimak kaseh…”
Beliau menoleh, “Iyelah Kandar…Tali dah tambat kuat-kuatkeh?” Aku jawab, “Udaaaaa…”
Aku berlari mengejar matahari sore. Aku harus mandi. Harus siap qomat. Harus gelar tikar. Harus menjadi bagian dari keluarga kecil yang setiap malam penuh ritual, penuh cinta, dan pelajaran hidup yang tak pernah usang.
Aku anak Sungai Raye Dalam. Aku adik Bang Noh. Aku murid dari rumah kecil penuh rahasia dan rotan. Tapi dari rumah itulah aku belajar jadi manusia.
