teraju.id, Pontianak – Kini santer sejumlah nama diusulkan sebagai Universitas Islam Negeri (UIN) transformasi dari IAIN Pontianak. Sejumlah kalangan angkat suara. Mulai dari akademisi hingga politisi. Ketua Nasdem Kalbar H Syarief Abdullah Alkadrie mengusulkan nama pendiri Kota Pontianak Syarif Abdurrahman Alkadrie dan Sang Perancang Lambang Negara Sultan Hamid II Alkadrie.
Saya salah satu investigator Sang Perancang Lambang Negara dan menuliskan buku biografi politik Sultan Hamid II bersama pakar hukum tata negara Universitas Tanjungpura Turiman Faturahman Nur serta Ketua Yayasan Sultan Hamid II Alkadrie–kini Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Pontianak Dr Anshari Dimyati, SH,MH–tentu amat sangat setuju nama ini diangkat dan disematkan secara terhormat. Adapun noda sejarah menyebut bahwa Hamid melakukan makar, sama sekali tidak terbukti, sebab beliau adalah korban politik era masa Orde Lama. Adapun usulan pendiri Kota Pontianak Syarif Abdurrahman Alkadrie adalah pilihan paling aman, namun sudah ada nama stadion dan juga diusulkan sebagai nama bandara pengganti Soepadio Intnl Airport.
Sebagai jurnalist yang meliput Kalimantan Barat, jangan lupa 2 tokoh ulama besar kelas dunia dari Bumi Borneo Barat yakni Imam Masjidil Haram Syech Muhammad Khatib Assambasy dan juga ulama Kalbar yang membawa pembaharuan Syech Muhammad Baisuni Imran.
Transformasi IAIN ke UIN bukan sekadar perubahan nomenklatur. Menurut PMA 81/2022, nama UIN harus punya 3 unsur: keislaman yang jelas, ke-Indonesia-an yang tidak kontroversial, dan kedaerahan yang mengakar di Kalbar. Itu sebabnya diskursus penamaan UIN Pontianak sekarang sengit – dari Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie hingga Sultan Hamid II.
Mari bedah:
Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie (1739-1808)
Pendiri Kota Pontianak pada 23 Oktober 1771 di persimpangan Sungai Kapuas dan Landak, dan Sultan Pontianak pertama pada 1192 H / 1778 M.
Plus: Paling aman secara politik, diterima semua etnis di Kalbar, nama Kota Pontianak sendiri lahir darinya. Sudah sangat ikonik.
Minus: Dimensi keulamaannya lebih sebagai Sultan-umara, bukan ulama pengarang kitab. Kurang menonjolkan misi integrasi ilmu Islam-sains yang jadi ruh UIN.
Sultan Hamid II – Sang Perancang Lambang Negara
Lahir Syarif Abdul Hamid Alkadrie, Pontianak 12 Juli 1913. Sebagai Menteri Negara Zonder Portfolio RIS 1949, ditugaskan Bung Karno merancang lambang negara, rancangannya diterima dan disahkan sebagai Garuda Pancasila 11 Februari 1950.
Plus: Satu-satunya tokoh Kalbar yang karyanya ada di setiap kantor negara. Simbol nasionalisme yang kuat.
Minus: Beban sejarah yang butuh effort eksplanasi kepada publik.
Syech Muhammad Khatib Assambasy (1803-1875)
Lahir di Kampung Dagang Sambas, Safar 1217 H / 1803 M, wafat di Mekkah 1875. Imam Besar Masjidil Haram dan pengasas Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, tarekat terbesar di Asia Tenggara.
Plus: Ini level internasional. Satu-satunya ulama Kalbar yang menjadi guru para ulama Nusantara di Haramain. Sangat UIN banget: tasawuf, fikih, sanad keilmuan jelas, kitab Fathul Arifin masih dikaji. Tidak ada kontroversi politik. Nama Sambas mengangkat representasi selain Pontianak.
Minus: Kurang populer karena jarang dipublikasikan akibat lemahnya ekspose dan paham kesejarahan kita…
Syech Muhammad Baisuni Imran (1885-1976)
Maharaja Imam Sambas III, lahir 16 Oktober 1885, putra ulama besar Sambas. Murid langsung Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau dan Rasyid Ridha di Kairo, pembaru pendidikan Islam.
Plus: Paling relevan dengan visi UIN. Dia pelopor pembaruan madrasah, mendirikan Tarbiyatul Islam 1936, Kulliyatul Muballighin 1963, menulis tafsir, dan menjembatani tradisi dan modernitas – persis definisi UIN. Tokoh reformis, bukan tradisionalis saja.
Minus: Basisnya Sambas, perlu sosialisasi ekstra di Pontianak.
*
Dulu pernah didapuk nama Baisuni Imran namun berganti menjadi Sultan Syaifiuddin (Unisas)–nama Sultan Sambas. Adapun nama Baisuni melekat sebagai nama Ponpes di Sambas.
Ini sekedar pencerahan mencari nama terbaik bagi UIN. Kalau bapak/ibu/Abang/kakak usul siapa?…
Jangan lupa. Tokoh Kalbar asal Ketapang juga menjadi Imam Besar Mesjid Istiqlal: KH Mochtar Natsir…
Masih terbuka usulan nama lain…*
