Selain istilah Zuhud ada juga istilah Wara’. Apa perbedaannya? Wara’ biasa diartikan sikap lebih berhati-hati, maksudnya meninggalkan segala sesuatu yang bisa merusak kehidupan akhirat, seperti masalah syubhat karena khawatir terjerumus ke dalam lingkaran yang diharamkan. Sedangkan Zuhud meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat. Zuhud lebih tinggi kedudukannya dari pada wara’.
Ada riwayat dalam kitab Hadaiq al-Haqaiq dusebutkab: Siapa yang bersikap Zuhud terhadap dunia, maka segala musibah menimpanya akan dianggap biasa-biasa saja.
Husein bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:’ Tiang agama adalah Wara’ dan bencana agama adalah keserakahan.
Sikap wara’ dan Zuhud inilah yang sudah mulai terasa terkikis hilang, sebaliknya sikap serakah dan berlebih-lebihan yang mulai banyak dipraktekkan.
Terkadang dalam rangka mencapai ambisi tertentu, maka segala macam cara dilakukan, bahkan suap dan sogok pun dianggap biasa-biasa saja, padahal jelas haram. Yang paling memprihatinkan ketika pelakunya adalah ahli agama.
Praktek ini didorong oleh keserakahan, dan inilah bencana agama. Semuanya ini menghilangkan keberkahan sebaliknya akan mendatangkan bencana. Biasanya orang-orang seperti ini sudah tidak berwibawa, nama baiknya rusak, dan cenderung dicuekin.
Sebaiknya biasa-biasa saja, dengan tetap mengedepankan kehati-hatian, karena itulah pokok ajaran agama.
Termasuk dalam hal dukung-mendukung calon tertentu, sebaiknya tidak berlebih-lebihan. Sikap berlebih-lebihan akan membuat hati buta dan pikiran buntu, akibatnya kita kadang dengan gampang menghina, mencaci maki, menjelek-jelekkan orang lain atau kelompok lain yang dianggap lawan, baik dengan gambar editan, video, atau kata-kata yang tak pantas.
