Pada bait-bait lagu country Iwan Fals terkini, jika disimak dengan hati-hati bakal meneteskan air mata kita semua. Jadi mirip syair qasidahan atawa wejangan taushiah. Dendang nada dan irama lawas diiringi gencreng gitar akustik yang mengalamatkan kematian. Atau setidak-tidaknya mengingatkan kita akan mati di ujung tarikan napas nanti.
Kata Iwan Fals dalam lirik Plus Almari, rasanya pejabat pemerintah tak sulit-sulit amat hidup dan kehidupannya saat ini, walaupun dibelit Pandemi. Kenapa mesti sunat duit bansos untuk rakyat? Alamat kiamat jika negeri ini salah urus dan salah kelola. Failure Country.
Iwan Fals yang sesungguhnya dekat dengan pecinta Rock Presiden RI Ir H Joko Widodo–penggemar Mettalica–juga Slank–menyentil lewat lagu Plus Almari, “Presiden dimana?” Dimanaaaaaa…….?”
Saya jadi trenyuh dibalut lagu cauntry yang melirik Aceh sampai Papua. Indonesia Raya ini kaya. Janganlah salah urus dan kelola hanya demi sepeser rupiah. Janganlah 270 juta nyawa rakyat kita digadaikan! Merah Putih dilumpuri kotoran comberan. Janganlah. Jangan!
Lalu apa yang bisa kita lakukan? Lagu Iwan Fals menyiratkan perlawanan seniman. Kami juga sudah teriak-teriak lewat lagu Elang Khatulistiwa bersama Grup Band papan atas Nusantara–Arwana. Lewat pantun dan syair pada 16/12/20 menembus Unesco sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke PBB karena keindahan sastra maupun isi universalitasnya. Tujuannya menyatukan bangsa yang masih bingung mau berbuat apa di masa Pandemi Covid-19 yang Presiden RI menitahkan “salib di tengah tikungan” untuk bangkit menjadi adidaya? Kita kembali ke Republik: Dari rakyat. Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat. Kita berbuat untuk merawat dan meruwat NKRI harga mati ini.
