in

Antara Hendropriyono, Kearab-arabannya Sultan Hamid II dan Baswedan serta Masa Depan Korupsi di Indonesia

Sultan Hamid 2 Pontianak
Cakepnya Sultan Hamid

Oleh: Dean Viejaya Roosandrie Alkadrie

Kita mulai dari reaksi yang ditimbulkan dari pernyataan perseteruan Prof Dr AM Hendropriyono terhadap pencalonan Anies Baswedan sebagai Presiden RI tahun 2024.

Mengapa “takut” dengan Anies Baswedan? Mengapa kebakaran jenggot ketika ada partai yang terang terangan akan menjadikan Anies Baswedan presiden Indonesia. Akibatnya, spontan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Hendropriyono mengatakan dengan berapi-api bahwa keturunan Arab tidak pantas untuk menjadi Presiden.

Semua buzzer memojokkan Anies Baswedan dan sejarah pun diputar balik dengan menjelekkan tokoh tokoh nasional keturunan Arab yang ikut memperjuangkan kemerdekaan. Untuk “melegalkan” kebenaran pernyataan di atas.

Tak berapa lama berselang, tiba tiba video Hendropriyono meluas hebat untuk kembali membuka “aib” masa lalu di negeri ini. Pengorbanan Sultan Hamid II untuk pengakuan kemerdekaan republik ini di hadapan Belanda dan PBB justru dinodai dengan hasil rekaman pernyataannya. Dalam video itu, ia menyudutkan Sultan Pontianak dengan mengatakan bahwa pencipta Lambang Negara RI, Garuda Pancasila, sebagai pengkhianat negara.

Belum puas, buzzer Deni Siregar pun dikondisikan untuk membuat status yang menjelekkan Sultan Hamid II yang kearab-araban. Tak ketinggalan Abu Janda juga ikut berpartisipasi menayangkan rekaman YouTubenya untuk melecehkan Sultan Hamid II yang pernah diberikan amanah sebagai kepala swapraja Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB).

Padahal sebenarnya, sasaran utama pernyataan Hendropriyono mengenai Sultan Hamid II adalah upaya untuk menggagalkan pencalonan Anies Baswedan sebagai calon presiden 2024.

Mengapa?

Tak lama berselang heboh video penghinaan kepada Sultan Hamid II, kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan diputuskan. Hasil keputusan hanya ditetapkan selama satu tahun hukuman penjara kepada pelakunya.

Belum reda keterkejutan kita terhadap hasil putusan pengadilan untuk tindakan kekerasan bagi pemberantas korupsi di negara ini yang didasari oleh alasan ketidaksengajaan.

Tiba-tiba muncul kehebohan baru, seorang koruptor besar yang di-“wanted” oleh negara, Djoko Tjandra bisa lolos dari Indonesia dengan selamat tiada kekurangan satu serta lain hal. Lebih tidak masuk di akal pikiran, baik sangka kita, bos besar itu berhasil mengubah status kewarganegarannya melalui bantuan para oknum dari “Gank” Abdi Negara di Republik yang kita banggakan ini.

Apa kaitannya antara Hendropriyono dan ke-Arab-araban dari Sultan Hamid II, Anies Baswedan dan sepupunya Novel Baswedan serta para koruptor dan kasus kasus korupsi di negara ini? Baik, kita mulai menguraikannya.

Almarhum Munir yang diracuni di atas pesawat Garuda Air lines menuju Belanda adalah seorang pemberani yang membongkar kasus-kasus korupsi di negeri ini. Ingat, Munir adalah seorang putera Indonesia keturunan Arab.

Apa kaitan kematian Munir dengan Hendropriyono? Tentu saja kita semua sudah mengetahuinya. Bukankah berita-berita nasional sudah banyak menjelaskannya?
Nah, apa kaitannya dengan Anies Baswedan? Tentu saja ada.

Anies adalah saudara sepupu dari Novel Baswedan. Bukankah saat Novel dirawat di RS di Singapura pasca penyiraman air keras di wajahnya, Anies menyempatkan diri membesuknya. Tentulah kronologi kekerasan yang menimpanya secara utuh diuraikan kepadanya.

Apa jadinya jika, Anies Baswedan berhasil maju dalam pencalonan presiden pada tahun 2024? Kita bisa menerka sendiri.

Seorang pemberantas korupsi yang sangat getol dan berniat untuk membasmi hingga ke akar-akarnya tentulah akan membuat kegerahan yang amat sangat bagi “mereka” yang melindungi kasus-kasus korupsi untuk tetap disimpan rapat. Berbagai skenario dan settingan pun dirangkaikan dengan sangat apik dan indah. Hasilnya adalah berbagai upaya penyerangan, pelemparan issue, fitnah, celaan dan sebagainya terhadap sosok Anies yang tentu akan mendukung sepenuh hati dan meloloskan cita-cita teguh dari sepupunya itu.

Baca Juga:  Speechless

Ingatkah dulu, propaganda terhadap Anies Baswedan sempat dilayangkan oleh para buzzer bahwa beliau pernah terlibat kasus korupsi saat diamanahkan tanggungjawab sebagai menteri di kabinet bapak Presiden Joko Widodo dan wakil Presiden Jusuf Kalla? Begitulah cara melemparkan bola panas, dilemparkan ke tempat yang bukan seharusnya, agar tangan sendiri tidak terbakar.

Lalu apakah kaitannya hal itu dengan keberadaan Sultan Hamid II yang berjasa bagi negara ini jauh sebelumnya atau di masa awal lahirnya Republik Indonesia ini? Mari kita renungkan dengan keilahian yang hadir di dasar hati paling dalam atau qalbu kita. Itu semua adalah kode alam. Kode dari Sang Maha Kuasa, dalam sila pertama berlambang bintang bersudut lima ‘nur-cahaya’, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bukankah kemerdekaan bangsa ini berkat Tuhan Yang Maha Esa? Artinya, kita rakyat Indonesia harus percaya kepada pesan yang disampaikan oleh sang pencipta alam semesta ini. Ingat sila-sila Pancasila mengingatkan diri kita pada lambang negara Garuda Pancasila.

Siapakah yang menciptakan lambang itu? Dia adalah Sultan Hamid II. Sultan Hamid II tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun. Beliau adalah seorang putera Indonesia kelahiran tanah Kalimantan bagian Barat. Ayahnya mengalir darah Arab, Dayak, Bugis, Banjar dan Melayu. Ibunya, mengalir darah kesultanan Turki dan/atau salah satu negara Islam pecahan dari Uni Soviet.

Ingat Sultan Hamid II, baru baru ini akan mengingatkan kita kepada rekaman Hendropriyono di chanel YouTube Agama Akal TV. Ingat Hendropriyono, akan mengingatkan kita pada kasus kematian Munir. Ingat kematian Munir mengingatkan kita kepada maskapai penerbangan Garuda. Ingat Garuda, mengingatkan kita kepada penciptanya yang fenomenal, Sultan Hamid II. Ingat Sultan Hamid II, mengingatkan kepada kita upaya beliau untuk mendapatkan pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Ingat kata Belanda, mengingatkan kembali kepada almarhum Munir yang wafat dalam perjalanan ke negara Belanda. Ingat Belanda, akan mengingatkan kepada kita perjuangan para tokoh-tokoh anak bangsa keturunan Arab yang memperjuangkan suatu cita-cita mulia, yaitu mendirikan sebuah negara merdeka dari penjajahan bangsa Belanda yang diberi nama Indonesia Raya.

Ingat cita-cita mulia mendirikan negara merdeka yang bernama Indonesia dari para anak bangsa keturunan Arab di negeri ini, mengingatkan kita kepada A.R Baswedan.
Ingat A.R. Baswedan, mengingatkan kita kepada sosok gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang kebijakannya selalu di-bully.

Ingat Anies Baswedan mengingatkan kepada kita sepupunya, Novel Baswedan yang menjadi trending topik baru-baru ini mengenai kasus tidak sengaja penyiraman air keras.

Penyiraman air keras ke wajah Novel Baswedan mengingatkan kita kepada Munir yang mendapatkan tindakan kekerasan yang sama. Ingat tindakan kekerasan kepada Munir, akan mengingatkan kita kepada kasus korupsi masa silam yang sulit diungkap di negara ini.

Ingat kasus korupsi yang sulit diungkap di negara ini, mengingatkan kepada kita baru-baru ini telah terjadi trending topik Djoko Tjandra yang mampu mengalahkan trending topik dari hasil keputusan pengadilan bagi penyiram air keras ke wajah Novel.

Ingat trending topik kasus korupsi Djoko Tjandra, mengingatkan kita kepada para oknum Abdi Negara dari negeri ini. Ingat oknum Abdi Negara dari negeri ini, mengingatkan kita kepada tindakan tegas yang akan diambil oleh pimpinan tertinggi atau kepala negara terhadap para penghianat terbesar negara.

Ingat Kepala negara Indonesia, mengingatkan kita kepada keputusan besar yang akan diambil oleh bapak presiden Indonesia, Joko Widodo, terhadap nasib dan masa depan negara ini, korupsi merupakan dosa terbesar kepada negara. Dulu suka disebut “white colar crime”. Kejahatan berdasi putih.

Baca Juga:  Selamat Jalan Adinda Mulyadi

Ingat kata-kata dari dosa terbesar kepada negara, mengingatkan kita kepada kata-kata dalam pledoi Sultan Hamid II, [“Apakah kejahatan yang paling besar dalam suatu negara? Kejahatan terhadap perorangan? Atau suatu golongan orang-orang? Atau terhadap negara? Tentu kejahatan terhadap negaralah yang paling besar”. . . . . “Saya tetap merasa berbahagia sebagai Putera Indonesia yang telah mendapat kehormatan yang sebesar-besarnya untuk dapat turut serta di dalam perjuangan mencapai Kemerdekaan Bagi Nusa dan Bangsa, Jakarta, 25 Maret 1953, Sultan Hamid II.” Semoga Indonesia tetap aman dan damai, aamiin.]

Jadi mengapa kita begitu takut dengan putera Indonesia keturunan Arab, khususnya yang masih hidup, sosok Baswedan itu? Dari zaman Sultan Hamid II sampai zaman Munir Said Thalib dan Novel Baswedan? Orang orang pemberani dan amanah seperti mereka selalu menjadi ancaman. Disengaja atau tidak, karakter seperti mereka itu telah disia-siakan dan dikorbankan untuk menjadi benteng dan pondasi bagi marwah negara ini untuk tegak berdiri.

Mengapa harus mencurigai para anak bangsa Indonesia keturunan Arab?
Apakah mereka ikut menikmati remah remah kue hasil korupsi? Ataukah kue korupsi justru merupakan sari-sari gizi bagi tubuh rakyat-rakyat kecil, sehingga kita pantas untuk melindunginya?

Lalu mengapa generasi millenial “zaman now” di negara ini begitu bangga dan menikmati kondisi pembentur-benturan antara anak bangsa Indonesia yang keturunan Arab dan keturunan Tionghoa? Kenapa ya? Lahir istilah yang tidak bermarwah: cebong, kadrun? Masya Allah. Tidak tega ini terjadi di kalangan milenial penerus “zaman next”.

Apakah kalian dan kita semua ini tidak lelah dan sedih menyaksikannya?

Dua saudara saling diadu domba di depan mata kita. Kita justru ikut memanas-manasi situasi atau menjadi dua kutub yang seolah-olah saling bermusuhan?
Tidakkah kita berfikir dan menyadarinya, bahwa kita itu sudah menjadi target bagi mereka untuk diseret-seret dalam masalah yang mereka design? Melalui ketidakharmonisan negeri ini, mereka dapat menutupi kasus-kasus korupsi di negara tercinta ini dan tetap menjadikannya tradisi?

Mestinya, kita sebagai generasi milenial yang kekinian menyadarinya. Kenapa kita diseret-seret dalam arus perseteruan antarkelompok-kelompok tertentu dan negeri ini dibuat untuk tetap tidak damai, diciptakan siasat adu domba antar kelompok masyarakat?

Sebenarnya apa manfaat yang kita peroleh dengan saling menghujat, sedangkan tujuan mereka adalah menginginkan kita untuk saling berseteru. Bukankah dalam kondisi rakyat yang tidak harmonis atau gaduh akan mengalihkan perhatian kita dari kecurangan-kecurangan mereka saat merampok uang negara secara berjamaah dan melindungi pelakunya? Cita-cita merekapun tercapai dengan baik. Tujuan negara merdeka, yakni mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Tuhan Yang Maha Esa masih fatamorgana.

Ayolah. Mari kita membuka mata hati kita dengan lebih jernih dan peka. Untuk masa depan dan kemajuan kita bersama.

Pontianak, 18 Juli 2020,

Kampong Batu Layang belah Laot,
Sambil menatap puing-puing bangunan yang hancur dan porak poranda akibat dihantam angin puting beliung di sore hari kemarin.
Tiada pernah terjadi hal seperti ini sebelum sebelumnya.
Sudah lama sekali, tak pernah menyaksikannya
Apakah ini pertanda kemurkaan…
Ya Allah Ya Rahman Ya Rahiim
Maafkan keangkuhan, kebodohan dan ketidakpedulian kami atas kezaliman di negeri ini.
Mohon Allah sayang menyelamatkan kami dan masa depan negara ini menjadi lebih baik lagi dan para Abdi Negara benar-benar dapat menjalankan amanah yang Engkau Ya Allah titipkan kepada mereka dengan rasa takut tak akan sanggup mempertanggungjawabkannya di hari kemudian dan akan menanggung murka dari Mu Ya Allah,

Aamiin aamiin aamiin Ya robbal ‘alamiin…

Wassalam

Dean Viejaya Roosandrie. *

Written by teraju.id

WhatsApp Image 2020 07 18 at 22.48.58

Misteri Kate Yup, Youtuber Mukbang Yang Diduga Korban Penculikan

WhatsApp Image 2020 07 19 at 07.24.37

Anshari Dimyati: Sultan Hamid II Pantas Menjadi Pahlawan Nasional