Leila’toelmala diklaim oleh redaksi Tjaja Timoer sebagai redaktur perempuan pertama di Borneo Barat. Dengan tujuan membawa perubahan dan lebih jauh lagi dapat mendorong pembentukan perkumpulan bagi kaum perempuan, rubrik ini diberi tempat khusus dalam setiap edisinya.
Isu tentang penguatan peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat dimuat hampir setiap artikel. Bahkan terdapat sebuah artikel yang memuat ratapan seorang istri yang dipoligami.
Dalam artikel yang mungkin dibuat untuk memotret keadaan kaum perempuan kebanyakan di Indonesia.
Artikel tersebut memberi penguatan terhadap kaum perempuan tanah air dengan memuat foto seorang penerbang Prancis bernama Louise Maryse dengan keterangan gambar yang cukup provokatif berikut, “kalau lelaki pandai, mengapakah perempuan tidak sanggup?”
Pentingnya pendidikan formal melalui sekolah bagi perempuan juga menjadi topik yang diangkat. Redaksi rubrik Sinar Iboe menyoal pandangan lama bahwa perempuan berpendidikan akan merusak sifat dan budi.
Diantara edisi Tjaja Timoer lainnya, artikel berjudul “Pemandangan Kepada Bangsakoe Kaoem Iboe di Borneo Barat” memuat jelas visi dari dibentuknya rubrik Sinar Iboe.
Muatan Tjaja Timoer sepertinya dianggap cukup kooperatif dan tidak membahayakan ketertiban umum oleh pemerintah sehingga masih bertahan terbit setidaknya hingga tahun 1941.
(Syafaruddin Usman MHD, historian researcher)
