Bersama Bapak Frans Seda, Bapak P.K. Ojong, menerbitkan koran baru dengan nama ‘Bentara Rakyat’. Terbit pertama 28 Juni 1965. Oleh Bung Karno, disarankan ganti nama menjadi “Kompas” – penunjuk arah.

Di awal karirnya, Pak Jakob mengerjakan dua profesi sekaligus, guru dan wartawan. Marwah kedua profesi ini sama, yaitu mendidik. Yang berbeda hanyalah sasaran dan bidang cakupannya. Guru mendidik ‘hanya’ para muridnya yang terbatas baik sasaran maupun bidangnya. Wartawan mendidik masyarakat – sangat luas – baik sasaran maupun cakupannya. Kelak, wawasan yang luas dan majemuk ini akan tercermin dalam isi koran Kompas.

Profesi kewartawanan baru dipilih secara total setelah berdiskusi dengan Pater J.W. Oudejans, OFM, bosnya di Penabur. Kalimat yang mendorong untuk memilih berprofesi total sebagai wartawan adalah ‘’Jakob, guru sudah banyak (orang), wartawan tidak.”

Pendidikan Seminari mewarnai gaya jurnalistiknya. Ilmu logika membawanya ke arah berpikir yang jernih, runtut, dan logis. Sehingga, membuatnya dapat melihat persoalan sampai pada hakikatnya dalam konteks yang masuk akal-bernalar. Ilmu Filsafat Antropologi membuatnya dapat mempelajari pemikiran-pemikiran besar dalam sejarah manusia. Ilmu sosial-budaya – khusus Pendidikan Humaniora menumbuhkan rasa: mengasuh, menggugah, serta mengembangkan pribadi manusia secara utuh. Tentu juga ilmu Sejarah, yang digeluti ketika mengambil kursus B1, menambah warna jurnalistiknya.

Saya berpendapat, sajian Kompas, pada umumnya bersifat bagai pisau bermata dua, mengkritisi ‘with understanding’ dan sekaligus menawarkan alternatif solusi. Sehingga, Kompas tetap kritis dilengkapi dangan fakta yang terkonfirmasi. Dengan cara sajian itu, Kompas dapat mengambil peran yang kokoh bagi pengembangan kehidupan bernegara yang semakin demokratis dan berbangsa yang majemuk dalam segala bidang.