Karya beliau diuruskan dan diterbitkan adiknya di Pontianak. Dicetak sesuai dengan kebutuhan. Satu strategi pemasaran yang biasa bagi penerbit dan percetakan sekarang ini. Karena itu buku beliau tidak terdisplay di toko buku, tidak juga terlihat di stan pameran. Bahkan, baik nama Pak Tomi maupun penerbit milik adiknya itu, sebelum ini tidak saya kenal. Jika tidak ke Sanggau dalam kunjungan sebelumnya, tak dapatlah saya nama dan nomor kontak beliau. Jika tak mampir ke rumah beliau dalam kunjungan malam itu, taklah saya berjumpa keajaiban itu. Taklah saya temukan sesuatu yang luar biasa.

Semoga keistimewaan itu bisa segera difasilitasi. Mungkin pengambil kebijakan bisa membantu penerbitan beliau agar karya monumental tentang Sanggau bisa dilestarikan dan disebarkan. Paling tidak buku itu ada di perpustakaan.

Tentu, semoga juga ada langkah-langkah memberikan penghargaan atas apa yang sudah dilakukan itu. (*).