Dan, hal ini sebenarnya pernah ditiru saat dia “berlakon” seperti dalam film kartun India, Shiva. Dalam lakon yang disutradarai sendiri, ada yang berperan sebagai Shiva dan ada yang berperan sebagai Penjahat.
“Aku jadi Shiva, kau jadi penjahat”.
Hanya, penjahat. Sebagai ciri dan sekaligus nama rujukan. Tidak menggunakan nama khusus atau nama diri dari orang yang diidentifikasi.
Soal pemerolehan kata itu, saya tidak tahu kapan dan dari mana mereka mendapatkan kosa kata jahat itu. Sedangkan kosa kata penjahat pasti diperoleh dari film kartun TV yang ditontonnya.
Begitulah… kalau bicara pemerolehan bahasa. Bahasa bisa diperoleh melalui banyak cara dan jalur. Kita tidak bisa menghambatnya. Tidak bisa kita hilangkan kosa kata “jahat” dan “penjahat” dari kamus bahasa mereka hari ini, sekalipun saya sangat ingin melakukannya . Begitu juga kosa kata yang lain yang saya tidak suka.
Setakat ini saya hanya bisa meluruskannya, memberikan penjelasan soal makna umum dan konteks penggunaannya. Soal boleh dan ketepatannya. Setiap waktu tanpa jemu. Entah dipahami sekarang atau belum.
Setelah itu, saya hanya bisa berharap dan berdoa: Ya Allah, tunjukkan kami jalan yang lurus. (*)
