Sampai di Embung Parong, tidak ada satu pengunjung pun yang kami temui kecuali seorang laki-laki yang mungkin bertugas menjaga tempat wisata tersebut. Ia duduk di sebuah pos yang berada di atas satu tingkat jalan yang menuju tugu batu yang bertuliskan “Selamat datang di Embung Parong” dengan tulisan berwarna biru dan di sampingnya terdapat lambang yang berbentuk seperti kaki hampir persis dengan cap kaki tiga. Tak ada yang dapat ditanya makna lambang tersebut.

Embung Parong memang sangat indah. Kami disungguhkan serasa di Tembok Raksasa karena jembatan dan dinding jalan yang berupa tembok apalagi bendungan air yang membiru terkena pantulan langit menambah nikmat pemandangan meski sedikit menyeramkan karena di sebelah kanan terdapat pohon-pohon mati yang masih berdiri dengan tegak.

Sekitar pukul 12 wib kami kembali ke Sui. Bemban karena tujuan kami bukan hanya berkunjung ke Embung Parong melainkan untuk ke Air Terjun dan juga Masjid Batu. Di perjalan kami menemukan sebuah plank berwarna hijau dengan tulisan “Makam kerajaan Ambawang Pasir Putih”. Lagi-lagi penasaran menghantui karena kami masih belum bisa menemukan narasumber yang bisa menjawab semua pertanyaan yang mulai menggumpul di kepala, toh di sini Sui. Bemban, kok ada makam kerajaan Ambawang?

Selesai salat Zuhur kami berangkat ke air terjun. Kami harus melewati persawahan orang di desa tersebut. Tak banyak yang bisa dibanggakan dari air terjunnya karena memang air sedang kecil lagi musim kemarau. Tak lama kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Batu yang searah dengan jalan pulang.