Oleh: Ambaryani
Jum’at malam 29 Desember 2017, saya suami beserta anak-anak menghadiri malam penutupan dan pertunjukan kegiatan Dialog Borneo-Kalimantan Ke-13 yang diselenggarakan di Rumah Adat Melayu Kalbar di Pontianak.
Saat kami baru saja datang, ruangan sudah ramai dengan alunan musik. Tetamu juga sudah memenuhi kursi dan meja yang disediakan. Kami ambil posisi di kursi yang masih kosong di bagian belakang. Tepatnya di depan barisan kursi penari yang mengisi acara pertunjukkan.
Baru kami duduk, ada laki-laki berbaju Melayu warna biru tua, bercorak sedikit putih, bersongkok hitam, bercelana hitam juga. Memakai nametage bertali hijau. Rambutnya sudah mulai memutih.
Beliau sedang makan malam di meja depan kami malam itu. Saat kami baru duduk di kursi, beliau menghentikan suapannya. Tangannya melambai-lambai ke arah anak bungsu kami. Isyarat mengajak mendekat dan makan bersama.
Kami membalas dengan senyuman. Selama menghabiskan sepiring nasinya, beberapa kali beliau melambai ke arah anak bungsu kami bersamaan dengan senyum ramah di wajah beliau.
Selesai makan beliau berediri menghampiri kami. Tepatnya, anak bungsu kami. Tangannya mengamit pipi gadis kecil kami. “Macam cucu saye”, kate beliau ramah besertaan dengan senyuman.
“Salam Datok, Nak!”, saya memberi isyarat pada bungsu. Tapi gadis kami bergeming.
