Melihat si kuning bundar ranum di berbagai dahan, macam ada hasutan kepada adrenalin dalam tubuh untuk meloncat, meraih dahan kuat untuk melompat, bergantung, meringankan tubuh untuk meliuk dan kemudian bertengger gagah laksana Jacky Chan memeragakan jago kungfu masternya.

Istri dan anakku menonton. Tapi si bungsu lelaki juga tak tahan. Dia ringan badan menyusul melompat, meraih dahan, meringankan tubuh, meliuk dan bertengger ke permukaan.

Di atas dahan saya kasih Diklat aman memanjat. Yakni hati-hati jebakan Batman berupa dahan rapuh dan serangga. Terutama penyengat. Sebab saya pernah tawaf di bawah pohon Langsat gegara jatuh dari ketinggian 2 meter. Sikut sampai pindah. Syukur ada Dukun Pe’ah di Kampong Bangke yang jago meluruskan tulang apalagi keseleo…
Saya tak mau anak saya mengulang hal-hal merugikan. Alhamdulillah kami berhasil. Langsat berguguran. Maneeeez zekaliii.

*

Terimakasih nenek. Zuriyatmu masih menikmati buah manis ini. Juga wakaf produktif ini.

Walaupun jasadmu ada di makam keluarga Daeng Ambo Baso terdahulu di bagian depan Sungai Raya Dalam tak jauh dari Munzalan Mubarakan, maka kami bersaudara dan anak-cucu mungkin terbaring di kawasan ini. Walaupun sigap dimanapun Allah mentakdirkan kembali ke hadirat-Nya di sanalah kami sedia dimakamkan.

*

33 tahun lalu. Kini saya memanjat Langsat kembali. Sensasi masa lalu kembali. Terbayang indahnya kebun-kebun di Serdam. Kini menjadi kota.
Apa bedanya? Dulu asri. Tenang. Tak macam ragam.

Kini? Kota. Banyak hal menjadi mudah. Namun warga asli bertabur kemana-mana.

Yang berbekal pendidikan dan keterampilan maka mereka tumbuh pesat. Namun bagi yang abai dan lalai, maka mereka terlindas kejamnya kehidupan.