Timeline yang disampaikan Ridwan yang juga sekretaris pribadi Mr Moch Roem serta kerap kali berinteraksi bersama pahlawan nasional lainnya seperti Muh Natsir, Prof Dr Hamka, Sjafruddin Prawiranegara, bahkan Muhammad Hatta, menyatakan, sepanjang riwayat hidup para pahlawan itu, tidak pernah keluar pernyataan bahwa Sultan Hamid itu pengkhianat. Justru jasanya merancang lambang negara dan kehebatannya dalam diplomasi selaku Ketua BFO, menyebabkan pengakuan kedaulatan Indonesia yang saat awal kemerdekaan baru diakui secara yurisdiksi oleh Kerajaan Luwu, Surakarta, dan Jogjakarta. “Pada saat awal kemerdekaan itu yurisdiksi Indonesia jangan dibayangkan sudah seperti sekarang ini,” lanjutnya.
Untuk itulah, Babe Ridwan Saidi berteriak dengan lantang, “Umur saya lebih tua daripada orang yang berteriak bahwa Sultan Hamid pengkhianat. Maka saya sampaikan kepada orang yang berteriak Sultan Hamid pengkhianat untuk segera minta maaf!” teriaknya pula dalam webinar yang diikuti 400-an peserta webinar, 200 peserta offline, dan lebih dari 1000-an penonton tayangan langsung di channel Youtube teraju.id. Massa yang berada di Convention Hall Aston pun berteriak nyaring,”Setujuuuuu!”
Pandangan pakar pembanding ini bagian dari deretan pakar pembanding lainnya, yakni Prof Dr Meutia Hatta yang membahas peran Sultan Hamid di Konferensi Meja Bundar, di mana Hamid-Hatta amat sangat akrabnya. Dan oleh Dr Muhammad Hatta, juga tidak ada catatan bahwa Sultan Hamid itu pengkhianat. Justru Hatta menulis di dalam bukunya bahwa Sultan Hamid adalah perancang lambang negara.
Babe Ridwan Saidi terkesan emosionil. Suaranya berteriak nyaring. Matanya berkaca-kaca. dan ia segera menutup dengan kalimat lawas, “Sultan Hamid wafat dalam kondisi bersujud…Sebagai orang Betawi saya tidak bisa terima Sultan Hamid dituduh pengkhianat negara.”
