teraju.id, Pontianak – Lama sekali tak bersua Sultan Syarif Melvin Alkadrie, SH, selepas Jumatan, 1 Agustus 2025 kami kembali bertemu. Sebelumnya kami bersama-sama di Reskrimsus Polda Kalbar terkait pencemaran nama baik Sang Perancang Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila, Sultan Syarif Hamid Alkadrie yang pada saat itu viral. Salah satu bagian yang viral adalah pengambilan tanpa izin exposure media yang saya pimpin teraju.id. Oleh karenanya kami dipersatukan oleh menteri pertama dari Bumi Borneo dalam jajaran kabinet Soekarno, yakni Sultan Ketujuh Kesultanan Qadriyah Pontianak yang populer disapa Sultan Hamid II. Namun kasus tersebut sudah selesai. Case close.

Kini Sultan Melvin adalah senator Kalbar. Putra Sultan Abubakar Alkadrie ini satu di antara empat senator Kalbar di Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI. Oleh karenanya beliau sangat sibuk.
Tema bicara kami awal dipersilahkan duduk di kediamannya kawasan Istana Qadriyah adalah pulau yang viral lantaran lepas dari gugus wilayah Mempawah dan masuk ke Provinsi Kepulauan Riau. Beliau keras. Bicara tuntas. Bahwa artefak sejarah menunjukkan bahwa Pulau Pengikik adalah bagian dari Kabupaten Mempawah. Jarak tempuh menggunakan speedboath hanya dua jam. Sedangkan dari Kepri enam jam. Oleh karena itu pada umumnya penduduk Pulau Pengikik berdagang hasil laut ke Sungai Duri, Mempawah.

kesultanan pontianak

Sebagai senator Sultan Melvin berjumpa Gubernur Kepri. Ternyata Sang Gubernur tak punya data banyak soal Pengikik. Dari sana saya berkesimpulan bahwa Pengikik akan kembali ke pangkuan Mempawah. Sebab kekeliruan hanya persoalan administratif.

Tema bicara kedua adalah kunkernya ke Johanesberg, Afrika. Sultan kagum akan kemajuan investasi di negeri emas hitam tersebut. Ia juga kagum dengan Pahlawan Syech Jusuf asal Sulsel di Capetown. Tampak sekali Melvin antusias dengan tata cara para tokoh membangun suatu wilayah. Dan Melvin mendayagunakan posisinya sebagai senator untuk membangun Pontianak, Kalbar, tanah kelahirannya.

Ia juga kagum dengan pengolahan sampah dan limbah di Jepang. Terutama ibukota Tokyo.

Selain padat modal, juga padat intelektual. “Mereka bisa. Kita juga pasti bisa,” Semangat.

Melvin ingin warga kita seperti warga Jepang. Tetap khas dengan kultur daerahnya, tapi maju peradaban internasionalnya. Melvin melihat warisan pemikiran genetiknya, seperti itulah adanya sejak Pontianak dibangun 1771 bersama Syarif Abdurrahman Alkadrie merupakan kota internasional.

Melvin mengisi waktu untuk menolong banyak masyarakat lemah. Terutama soal tanah adat yang diserahkan Kesultanan Pontianak kepada NKRI.

Salah satu yang diikuti jejaknya adalah wakaf Sulthan Annashira. Beliau memberikan rekomendasi bahwa Tanah Adat berhak dimiliki oleh masyarakat untuk bertani dan mewujudkan kesejahteraan. Baik lahiriah maupun batiniah.

Saya kagum dengan Sultan yang super sibuk dengan berbagai tamu maupun agenda kenegaraan sebagai senator. Ia berada di jajaran elit, namun tidak pelit berbagi waktu, gagasan dan pengalaman kepada siapa saja.
Saya harus tahu diri dan mohon pamit saat tetamu lainnya hadir. Antre.

Saya gunakan waktu salat Ashar di Mesjid Jami Abdurrahman Alkadrie dengan pemandangan sekitarnya yang sangat indah. *