teraju.id, Pontianak – Dr Firdaus Zar’in dikenal publik Kalbar, khususnya Kota Pontianak sebagai politisi yang berakar dari rahim pendidikan dan pengajaran. Wajar, sebab beliau merupakan alumni FKIP Untan dan tiga periode duduk di gedung parlemen Bumi khaTULIStiwa.
Senyampang, mantan Ketua Majelis Adat Budaya Melayu Kota Pontianak ini kontak buat diskusi soal pantun. “Istri sedang menyelesaikan disertasi tentang sastra lisan pantun. Saya cari referensi dan mau wawancara ahli,” pesan singkatnya masuk gejet genggam.
Sebagai koordinator Serumpun Berpantun saya tentu senang, sebab semakin banyak penelitian tentang pantun akan semakin lestari dalam ruang-ruang publik. Apalagi kampus. Apalagi disertasi. Puncak pencapaian pendidikan formal di sektor pendidikan tinggi. Ia setara dengan Komisaris Jenderal jika dianalogikan dengan pangkat kepolisian.
Saya mengajak sejumlah pakar. Ada Tuan Guru Agus Muare Rahman yang baru saja launching Buku 8 Rima Pantun serta Pantunin AI. Ada TnG Zuolkarnain dari Mempawah. Juga pakar Tundang Tan Shah Khumainy serta Yaser Syaifudin. Saya juga bawa beberapa buku pantun yang diserahkan kepada pria yang akrab kami sapa “Bang Da’uz”. Tak pelak, diskusi pantun merembet ke diskusi politik. Bahkan politik praktis. Kenapa? Sebab pantun “relate” dengan politik. Contoh:
Hati hati berlayar malam
Tikungannya gelap batuannya tajam
Pilih-pilih muallim yang paham
Sebab banyak kapal tenggelam
*
Pantun nasihat di atas begitu pas dalam pengalaman 3 periode duduk di dewan sekaligus memimpin Partai Nasdem Kota Pontianak. “Terlebih pemilu 2024 luarrrr biasa transaksional. Suara bisa dibeli. Untuk itulah, wilayah binaan saya pun habis tergerus,” akunya detail. Tak pelak, kami mengangguk-angguk seraya menyeruput kopi Aming Podomoro. Tentu sambil berhitung betapa besarnya ongkos politik untuk sebuah kursi parlemen. Dan dari sana “tanggung renteng” atau efek domino bancakan dana dana project. Alhasil berat untuk menuju demokrasi dan hasil pembangunan berkualitas.
Diskusi pantun dan diskusi politik sejak bada Maghrib. Tak terasa nyaris tengah malam baru bubar.
Benar-benar berbab-bab ulasan. Benar-benar setiap aspek berbalas pantun dengan harapan semua dapat disenarai ke dalam disertasi yang elegan. Oleh-oleh kearifan lokal yang berkontribusi ke vibes global.
Kabar baik disertasi pantun bersama Bang Da’uz menambah semarak pertumbuhan pantun Bumi Corak Insang. *
