teraju.id, Pontianak – Tiga tahun pasca WBTB Unesco 17 Desember 2020, what’s next dengan pantun? Sekedar warisan tradisi lisan? Atau bisa menjadi tools atau alat berkemajuan?
Maka pegiat Pagar Budaya Serumpun Berpantun pun bikin lokakarya nasional menyusun roadmap. Menjawab what’s next-nya itu. Tersusunlah satu kitab peta jalan kemajuan pantun Nusantara. Antara lain pantun masuk dalam kurikulum sekolah sampai universitas. Pantun dipraktikkan dalam pertemuan formal, informal dan nonformal. Perbanyak event atau festival. Perkuat riset dan outputnya ke dalam buku, medsos, hingga gawai digital. Harus regenerasi. Harus mampu menyesuaikan diri dengan zaman.
Lahirlah seminar nasional menjawab Indonesia perlu Hartunas. Dunia perlu Harpandu. Then, dideklarasikan di Kota Pontianak pada 16 Desember 2023 Hari Pantun Dunia dan 17 Desember 2023 di Pekanbaru, Riau, Hari Pantun Nasional.
Menyusul perlu dilahirkan spirit baru dalam berpantun. Yakni berpantun, berdendang dan menari. Disingkat dengan Tundang Sari.
Ide dasarnya ada di kitab roadmap pantun yang disusun akhir Desember 2020 di Balai Kerja Rumah Melayu, MABM Kalimantan Barat. Sekaligus menandai old and new 2020-2021.
