Dr Anhar Gonggong masuk dan menyatakan singkat, “Saya tidak mau membahas Ridwan Saidi. Dia bukan sejarahwan. Itu saja. Yang lain saya tidak mau bicara.”
Tampak dari raut wajah Anhar rasa kecewa. Sebab Ridwan Saidi mencak-mencak dengan ulasan bahwa “time-line” sejarah harus dipijak dengan benar. Ridwan Saidi membahas ujaran dari pakar sejarah tentang di mana Sultan Hamid II pada tahun 1946 ketika “kita” dikejar-kejar Belanda, ketika “kita” dikejar-kejar Ratu Wilhelmina. Dan tokoh sejarah yang dituju Ridwan tak lain tak bukan adalah Dr Anhar.
Peristiwa yang ditayangkan teraju.id secara langsung di YouTube itu terekam dengan baik. Hal ini dikomentari Dr Amrazi Zakso, mantan Kepala Balitbang Universitas Tanjungpura. Katanya di laman FaceBook:
“Bagi saya jelas: 1. Sdr. Anhar Gonggong ternyata ilmuwan sejarah yg eksklusif dan menganggap sejarah sebagai sains monopoli mereka yg memperoleh keahlian lewat pendidikan sejarah padahal dalam paradigma sains ilmu itu terbuka untuk siapa saja; 2. Fenomena SH 2, adalah fakta sejarah masa lalu. Sepanjang pelaku sejarah masih ada (hidup) maka fakta sejarah masa lalu lebih berpresisi tinggi jika diungkapkan oleh pelaku sejarah walaupun ybs bukan sejarawan. Oleh karena itu, standing position pembicaraan SH 2 jauh lebih bernilai akademis dan memiliki historical thinking jika dibicarakan oleh pelaku sejarah ketimbang seorang guru besar sejarah sekalipun yg kurang punya pijakan fakta sejarah yang kuat. 3. Mumpung pelaku sejarah yg dapat dijadikan sumber primer dalam riset sejarah SH 2 masih hidup, saya berharap sejarah perjuangan SH2 segera dibukukan agar masyarakat tahu perjuangan beliau di negeri ini.”
Jangan lupa ikuti kami melalui…
Youtube teraju.id
Facebook
Instagram
