Kata Nuris, hanya di Indonesia yang punya dua hari raya pantun, yang jatuh pada 16 dan 17 Desember, sejak deklarasi tahun 2023 hingga sekarang.

Dalam kesempatan virtual meeting, Walikota Pontianak Ir H Edi Rusdi Kamtono, MM, MT menyatakan mendukung Harpandu dan Hartunas karena Kita Pontianak memang kental dengan tradisi pantun. Begitupula dengan Gubernur Kalbar H Ria Norsan, SH, MH yang diwakili Kadis Dikbud, bahwa Kalbar dengan luas 1.5x Pulau Jawa beririsan darat langsung dengan negeri serumpun yakni Sarawak-Malaysia dengan Brunei Darussalam dimana perpantunannya saling berpadu. Oleh karena itu Harpandu dan Hartunas menjadi modal sosial bangkitnya sastra lisan di Bumi Kalimantan.

Sementara Ketua DPP MABM yang juga Ketua ATL Kalbar Prof Dr H Chairil Effendy, MS dalam amanatnya mengatakan bahwa Melayu memang identik dengan pantun. Apa-apa saja dipantunkan. “Jangankan gembira, marah dan sedih pun dipantunkan.” Oleh karena itu wajar dalam dunia serumpun ada hari raya Pantun Dunia dan Pantun Nasional.

Adapun Menteri Kebudayaan RI Dr Fadli Zon, berhalangan hadir disebabkan harus hadir dalam sidang WBTB sehingga panitia kembali mengkaji Surat Keputusan No 163/M/2025 tentang Hari Pantun. Juga amanat Menbud dalam Hut-1 Harpandu dan Hartunas pada tahun 2024 yang masih relevan disempurnakan dengan diskusi lintas provinsi.
Hadir dari Aceh, Sumbar, Langkat, Medan, Jakarta, dan Semarang.
Sementara dari Kalbar, hadir dari Mempawah, Singkawang, Sambas, Sanggau, Sintang hingga Kapuas Hulu.

Sepanjang kegiatan pukul 09.00-11.30 peserta sangat antusias dengan berbagai ide dan saran. Antara lain lomba, diskusi akademis, maupun pertemuan-pertemuan rutin, baik di darat, laut, maupun udara. (kan)