Pukul 11 di Kamis, 29 Januari kami berkunjung ke DPP Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat. Di sana telah menunggu pakar sastra lisan Prof Dr H Chairil Effendy, MS dan jajaran. Berdiskusi soal keseimbangan alam pikiran, budaya dan keimanan. Tentu juga ekonomi hijau yang berkah dan berkeadilan.
Diskusi di Balai Kerja selama 2 jam menyimpulkan perlunya trust. Kepercayaan publik pada pelaksana negara. Pelaksana swasta. Termasuk antarmasyarakat itu sendiri.
Jika trust dimiliki oleh individu atau lembaga, maka menjadi tumpuan dan harapan, kesuksesan masa depan. Tidak hanya di dunia, tapi juga kehidupan abadi setelahnya.
Di sini Yunda Dwi Hadiningdyah yang kerap disapa sebagai Duta Wakaf Indonesia (Dwi) memuji enaknya kopi MABM. Juga aneka kue kue tradisional yang dihidangkan. “Ini kopi buatan Titin. Kopi Kampong racikan Pontianak. Memang enak,” susul Prof Chairil merayakan senyum.
Ada agenda serius di MABM. Bagaimana bisa wakaf produktif tumbuh. Juga menerima wakaf Pemprov seperti Mujahidin di masa Usman Jafar. Termasuk menyelesaikan gedung mangkrak Pemda dengan jalur CWLS dimana Yunda menyalurkan sampai 3k triliun! Mesti dimanfaatkan secara proporsional dan profesional.
*
Maksi? Oh iya kita lupa makan siang.
Yunda ingin yang segar segar. Bukan makan berat. Jatuhkan pilihan pada bakso Tyga Sapi. Lahap semua. Kenyal dan terasa dagingnya. Sebab daging tiga ekor sapi loh hehehe. Apa tak ngaldu? Ngesop iga lagi…
Lagi lagi kuliner khas Pontianak dapat pujian.
Kami kemudian meluncur ke Pimpinan Wilayah Muhammadiyah di Kubu Raya. Tak jauh. Sepelemparan batu saja dari Transmart Chairul Tanjung si Anak Singkong yang menjadi milionaire Indonesia.
