teraju.id, Pasar Flamboyan – Dinginnya malam, 5 Oktober, tak menyurutkan puluhan ribu orang untuk memadati Jalan Gajahmada, Pontianak. Di bawah guyuran hujan yang disebut Ustadz Abdul Somad (UAS) sebagai ‘hujan rahmat’, Haul ke-114 Habib Muhammad bin Abdullah Al-Mutahar menjadi panggung dakwah UAS yang kental dengan pesan persatuan, toleransi, dan humor khas Melayu.

Malam itu, UAS membuka ceramah dengan pesan penting mengenai silaturahim dan doa untuk para pemimpin. Beliau menggarisbawahi pentingnya berkumpul (ijtimak) sebagai cara untuk menguatkan iman, terutama di tengah fitnah. Kehadiran berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas Tionghoa dan para pedagang lapak, membuktikan bahwa Pontianak telah lama mengamalkan toleransi tanpa perlu diajarkan.

Dalam sesi ceramahnya, UAS mengingatkan jamaah tentang hakikat kehidupan dan kematian. Dengan nada jenaka namun sarat makna, beliau mengubah peribahasa lama menjadi cerminan realitas:

“Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan kredit​.”

Pernyataan ini disambut tawa sekaligus renungan, menegaskan bahwa jabatan dan harta duniawi akan ditinggalkan.

Suasana semakin hidup ketika UAS menyinggung tingginya antusiasme jemaah yang rela basah kuyup. UAS bercerita bahwa ia akan membawa kisah semangat Pontianak ini ke Riau dan Sumatera. Ia juga menyentil soal status Maulid dan Haul yang kerap dipertanyakan, sembari mendorong jemaah untuk mendokumentasikan acara tersebut.

Momen unik terjadi ketika para pedagang, alih-alih pejabat, diberi kesempatan memberikan kata sambutan, menunjukkan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah. UAS kemudian memberikan sindiran halus dengan pantun yang mengombinasikan kearifan lokal dengan isu-isu kekinian.

Ketika membahas ciri-ciri perempuan Pontianak yang taat, UAS melontarkan pantun yang sukses mengundang gelak tawa: “Kalau sayang kepada anak, jangan lupa belikan kebab​; Kalau mau menengok orang Pontianak, sound system pun pakai jilbab​.”

Pesan inti Maulid, kata UAS, adalah meraih ampunan dan rahmat Allah. Tanda taubat yang diterima adalah adanya perubahan perilaku, seperti perbaikan kualitas salat. Beliau menutup segmen ini dengan pantun yang mengingatkan tentang kewajiban utama seorang Muslim:

“Walaupun hidup seribu tahun, kalau tak sembahyang apa gunanya​.”

Di akhir ceramah, setelah menguji kemampuan jemaah membaca Surat Yasin dengan cepat, UAS kembali melempar pantun lucu mengenai speed reading Al-Qur’an:

“Kalau tuan pergi ke Madinah, jangan lupa bawa ikan sepat​; Sudah lama saya tausiah, inilah baca Yasin yang paling cepat​.”

Doa Penutup dan Harapan Barokah

Sebelum menutup, UAS mengingatkan bahwa puncak dari Haul dan Maulid adalah doa yang makbul, terutama dari para keturunan Rasulullah. Beliau juga memohon agar anak-anak muda yang masih berpacaran segera diputuskan hubungannya, agar terhindar dari maksiat, dan segera menikah dengan yang saleh.

Setelah ceramah hampir satu jam, UAS mengakhiri tausiah dengan dua pantun penutup sekaligus salam perpisahan, menegaskan kembali budaya dan keramahan Melayu-Jawa:

“Menangkap puyu di Bukit Selasi, thank you dan terima kasih​; Buah selasi di atas angkong, terima kasih matur sekelangkong​.”

“Madiun lemahe teles, matur nuwun Gusti Allah sing bales​.”

Malam Haul tersebut ditutup dengan tahlil dan doa bersama, meninggalkan kesan mendalam tentang persatuan, keteguhan, dan barokah di tengah curahan hujan rahmat di Pontianak.