Jakarta, teraju.id— Pemerintah mulai membaca arah zaman. Ketika pola kerja bergeser cepat ke ruang digital, negara tak lagi cukup hanya membuka lapangan kerja.
Itulah yang ditangkap Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) lewat kolaborasi strategis dengan TikTok Indonesia. Keduanya meluncurkan program BISA Bareng TikTok, sebuah inisiatif pelatihan untuk mendorong lahirnya talenta baru di ekonomi digital, bukan sekadar siap kerja, tapi juga siap menciptakan penghasilan sendiri.
Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan kesepahaman untuk program upskilling dan reskilling, sebagai respons atas ledakan ekonomi digital Indonesia yang kian tak terbendung.
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menyebut ekonomi digital kini bukan lagi sektor pelengkap, melainkan tulang punggung baru. Nilainya bahkan diproyeksikan mendekati Rp 1.600 triliun pada 2025 terbesar di Asia Tenggara.
Namun, di balik angka fantastis itu, ada realitas yang tak bisa diabaikan: banyak tenaga kerja belum siap. “Pasarnya ada, peluangnya terbuka, tapi tidak semua punya skill untuk masuk,” kata Yassierli.
Di sinilah problem sekaligus peluang itu bertemu.
Ruang digital hari ini bukan sekadar tempat jual beli. Ia telah berubah menjadi “ladang kerja” baru—tempat orang bisa hidup dari konten, dari kreativitas, bahkan dari interaksi.
