Berdasarkan pengamatan teraju.id hingga Selasa, 9/5/17 belum ada satu laporan pun yang masuk ke polisi mengenai “hate speech” Gubernur Cornelis jika ada yang merasakan bahwa isi pidato Gubernur Cornelis itu adalah ujaran kebencian. Sebab perlu telaah hukum dan bahasa untuk bisa mendapatkan kebenaran dari pro-kontra yang terjadi saat ini.

“Oleh karena itu kami bertanya kepada Kapolda. Agar situasi yang sempat panas ini bisa kembali kondusif,” ungkap anggota DPRD asal Nasdem, Luthfi A Hadi.

Selain Luthfi yang turut hadir dalam pertemuan dengan Kapolda adalah H Miftah (PPP), H Syarif Ishak Ali Almutahar (Gerindra). Mat Nawer (PPP). Hj Henny (Golkar), H Fatahillah Abror (PKS) , Syarif Amin Muhammad (Nasdem) dan H Subhan Nur (Nasdem).

Pertemuan berlangsung selama dua jam. Dimulai sejak pagi hingga menjelang siang.
Adapun situasi Kalbar pada umumnya dan Kota Pontianak pada khususnya pasca tindakan “pemulangan” ulama yang juga Ketua Umum FPI Ustadz Shabri Lubis dan Hidayat Batangtaris semakin kondusif. Dimana tidak ada lagi penempatan pasukan atau aparat keamanan di tempat-tempat rawan konflik. Begitupula tidak ada protes khusus dari komponen ulama dalam organisasi Majelis Ulama, Muhammadiyah, ataupun Nahdatul Ulama secara resmi di Kalbar. Semua tampak menahan diri lantaran kehebohan di media sosial terus tumbuh menakutkan laksana bola api yang liar.

Spanduk kegiatan ceramah dengan ulama dari luar Kalbar juga masih terpampang, namun tidak ada penolakan ataupun pengusiran. Foto teraju.id/Nuris
Spanduk kegiatan ceramah dengan ulama dari luar Kalbar juga masih terpampang, namun tidak ada penolakan ataupun pengusiran. Foto teraju.id/Nuris