Sebuah kapal bertonase sedang (sekitar 6-7 ton) merapat di dermaga ujung jembatan. Ada 4 awak kapal. Mereka menurunkan beberapa keranjang berisi ikan dan udang. Saya menghampiri mereka dan sempat bertanya harga-harga ikan. Wow, semuanya murah dibandingkan Flamboyan Pontianak. Jauh lebih murah. Semuanya segar karena baru ditangkap dengan jermal di laut.

Kami melangkah ke ujung jembatan arah pantai. Di bagian ini ada sebuah kelenteng Tao, kecil. Tiba beberapa rumah sebelum kelenteng, saya melihat seorang perempuan sedang menyapu. Saya menyapanya dan dia menjawab ramah. Di samping rumah beliau ada jembatan yang dipagar dan pagar itu berpintu. Jembatan itu jalan menuju tambak di belakang rumah.

Setelah saya mengetahui hal itu, saya meminta izin pada beliau untuk melihat tambak.

Tambak keluarga ini nampaknya dikerjakan secara manual. Luasnya hanya beberapa puluh meter saja; mungkin panjang dan lebarnya hanya 25 meter. Tanggulnya juga tidak lebar, hanya 1-1,5 meter. Parit-parit juga tidak dalam. Saya melihat lubang air hanya sebuah paralon ukuran 5 atau 6 inci yang tersembul di dua sisi tanggul. Paralon ini untuk pembuangan air dan berfungsi untuk panen. Di ujung paralon terdapat kotak papan untuk menutupnya. Sedangkan di bagian luar ada jaring bulat panjang.

Tambak itu kering. Kata pemiliknya, mereka sudah panen kemarin. Saya melihat tambak ini dengan takjub. Saya takjub pada pemiliknya yang dapat memanfaatkan lahan di belakang rumah untuk tambak. Mereka membuat tambak dengan sederhana dan mudah. Biayanya pasti  tidak akan semahal dibandingkan harus menggunakan alat berat.