teraju.id, Pontianak – Lokasinya tak jauh dari Airport Soepadio Intl Airport. Makanya Wonodadi yang pernah menjadi lintasan para wakil rakyat Kubu Raya yang terhormat disebut daerah Belanda–belakang landasan–terdapat unit ekonomi dan keuangan syariah berbasis wakaf produktif bernama Ponpes Tahfidz Quran Khadijah. Saya kali ketiga mampir kemari. Pertama bersama Drg Heru Wijaryadi Zarkasi di era awal millenium kedua, 26 tahun lalu. Menyusul kedua bersama KH Lukmanul Hakim meninjau lele organik yang dirawat seraya mendengar murottal Qur’an di masa awal-awal berdirinya Munzalan Mubarakan tahun 2015. Hari ini, ketigakalinya. Kamis, 13 Mei 2026 giat on the spot sebagai tindak lanjut kedatangan Kyai Sudarmin ke Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah bersama Asosiasi Pengusaha Mikro, Kecil dan Menengah Indonesia (APIMSA) Kalbar yang dipimpin akademisi IAIN Pontianak Dr Ita Nurcholifah. Senyampang juga berkumpul fungsionaris APIMSA hampir 20 orang banyaknya.

On The Spot Wakaf Produktif Ponpes Mbah Darmin.1

Ponpes ini integral. Ada layanan PKBM untuk mengentaskan buta huruf dan anak terlantar, ada unit usaha jahit, ternak ayam-lele-kelinci, pendidikan SD-SMP-SMA, mesjid, hingga produksi HexaQua. Ponpes juga mendidik fardhu kifayah sekaligus pendampingan hukum bagi keluarga yang kurang mampu. Jumlah murid, guru dan pengelola berjumlah 100 orang. Persis 600 meter dari Jalan Arteri Soepadio: Jalan Wonodadi II yang dulu pada ujungnya ada DPRD Kabupaten Kubu Raya.

Kyai Darmin dengan baju khas berwarna oranye menjelaskan bahwa ponpes rintisannya berbasis wakaf produktif. Ia pun berwakaf hampir seluruh harta benda miliknya. “Hanya tinggal sepetak kamar buat saya sama istri. Semua sudah dibagi kepada hak anak dan lembaga.”

Mbah Darmin didampingi sang istri Nyai Novi Wijaryadi Zarkasi. Terhidang aneka kudapan hasil SmartFarm Ponpes. Ada telur rebus Omega-9, teh khas campur telur ayam kampung, rebusan ubi rambat dan juga singkong fermentasi–mengutip Cak Lontong–menyebut tape ubi.

Usai sambutan dan dialog di ruang pertemuan pukul 10.00-11.30, kami lanjutkan peninjauan ke lapangan bekas kebun rambutan. Kini menjelma Sawung Kayu eksotik, mesjid beton, dan asrama ponpes sekaligus lokal belajar. Terdapat hamparan SmartFarm berisi lele, kelinci, ayam bukan ras dan pembiakan tanaman hortikultura. Terdapat pabrik tahu-tempe di salah satu sudut bangunan, dan kami nikmati semuanya dalam racikan makan siang.

“Saya diminta Mbah Darmin menggoreng ayam, rebus telur, dan goreng tempe. Semua hasil produksi SmartFarm Ponpes. Yang masak juga santri. Alhamdulillah beginilah harian kita di sini,” kata Nyai.

20-an tamu menikmati kuliner yang uenak tenan. Termasuk produksi Masehi (Masjid Sehat Indonesia) kolaborasi Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin.

Sambil menjelaskan resep Masehi anti diabet dll, Mbah Darmin juga mengurai kunjungan Pimpinan Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin , dua hari lalu, ke Ponpes Khadijah. “Alhamdulillah wayukurillah watabarakallah wanikmatillah kita disupport infrastruktur sebesar 100 juta,” terangnya disambut gema takbirrrr.

Ponpes produktif ini menyalurkan produksinya hingga ke tapal batas. Selain ke pasar pasar Kota Pontianak juga ke Parit Gadoh Kakap. Kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas.

Mereka masih butuh modal untuk mengembangkan kepak sayap pelayanan ummat. Butuh pendampingan agar sayap ZISWAF Produktif menjadi alat persemakmuran masyarakat Kalimantan Barat. Tugas bersama ekosistem ekonomi dan keuangan syariah. *