Membentuk karakter bangsa? Iya. Lihat pantun lawas ini: Kalau bukan karena tenun// Tidak baju menjadi cual// Kalau tidak karena pantun// Tidak Melayu jadi terkenal// Di sini tersemat pesan bahwa pantun aras sastra lisan pembawa Lingua Frangka. Bahasa gaul Nusantara. Utama dari belasan ribu bahasa daerah. Lalu ditabalkan ke dalam Sumpah Pemuda. Proklamasi. UUD 1945 dan UU tentang bahasa hingga trigatra bangun bahasa. Bahkan di Kota Pontianak pantun menjadi platform pelestari bahasa ibu. Diakui WBTB Indonesia. Yakni logat Melayu langgam Pontianak. Lihat pantunnya:
Kap-kap udang
Udangku tangkap lepas
Dimana bunyi bujang
Lari lekas-lekas
Pantun nasihat yang kental aksentuasi lokal.
Juga pantun ini:
Enjot-enjot sipot
Ae’ pasang dalam
Adek jangan ikot
Abang bikin kalam
Ini jelas membangun karakter budaya bangsa.
Kaya nasihat. Lihat lagi pantun filosofi berbangsa dan bernegara berikut ini:
Kukuh rumah karena sendi
Rusak sendi rumah binasa
Kokoh bangsa karena budi
Rusak budi bangsa binasa
Juga karakter bangsa soal pemilihan pemimpin.
Jangan keliru dalam memilih:
Hati hati berlayar malam
Harinya gelap karangnya tajam
Pilih pilih muallim yang paham
Sebab banyak kapal tenggelam
*
Saya tak sanggup mengurai tanya pelajar itu. Saya ditemani empu pantun Kalimantan Barat. Beliau Tuan Guru Agus Muare. Sosok pelestari pantun yang baru saja launching buku pantun 8 Rima (2025) dan Aplikasi Pantunin-AI 2026. *
