Tuan Guru tak bisa mengelak. Beliau kembali menganggukan kepala tanda setuju. Dimulailah lelang kedua dengan barang berupa kopiah hitam berbordir benang emas yang bertuliskan “muslimunited”.

Oleh Kamil Onte, kopiah yang sering digunakan Tuan Guru UAS itu dibuka dengan harga empat ratus ribu. Tak lama ada yang menawar satu juta, lalu 5 juta, delapan juta, dan terakhir seorang pengusaha mienial Pontianak menawar kopiah itu dengan harga sepuluh juta. Masyaallah!

Lelang kopiah Tuan Guru itu akhirnya ditutup dengan harga sepuluh juta. Pembelinya adalah Rizal Hamka, pengusaha millenial Kalbar yang bergerak dalam industri kreatif. Masyaallah, tabarakallah.

Kamil Onte tampaknya “ngenyan” karena “barang dagangannya” laris manis. Karena ngenyan, Kamil Onte melancarkan rayuan lagi kepada Tuan Guru UAS.

Dengan gayanya yang kocak, ia menghampiri Tuan Guru lalu berbisik-bisik dengan pakar fiqih dan sejarah itu.

Entah apa yang disampaikan oleh Kamil Onte kepada Tuan Guru. Namun, setelah melakukan aksi kocaknya itu, Tuan Guru kemudian meminjam mic yang dipegang oleh Kamil Onte.

“Baik, besok saya mau pulang ke Pekan Baru. Silahkan lelang semua barang yang saya kenakan. Tadi cincin sebelah kanan, lalu kopiah. Sekarang sisa syal dan cincin di sebelah kiri. Silahkan lelah semua dan gunakan hasilnya untuk pembangunan Gedung LPBM Masjid Kapal.Munzalan, Pusat Kaderisasi Umat. Silahkn, silahlkan Lelang semuanya! Asal jangan baju dan celana saya saja, karena tak mungkin saya pulang ke Pekan Baru, tanpa baju dan celana”, kelakar Tuan Guru disambut tawa riang hadirin.