Oleh: Beni Sulastyo
Guru dalam falsafah nusantara terdefinisikan secara sastrawi lewat kalimat “digugu dan ditiru”.
Dalam bahasa jawa, digugu berarti terpercaya atau bisa dipercaya. Dipercaya ucapanya, dipercaya nasehatnya.
Sementara ditiru berarti diikuti. Diikuti sikapnya, diikuti perilakunya. Bisa menjadi uswah atau teladan bagi siapapun yang melihatnya.
Nah, Tuan Guru Ustaz Abdul Somad (UAS) menurut saya adalah salah satu dari teramat sedikit publik figur nasional yang patut “diguru”, patut digugu dan ditiru. Digugu ucapannya, digugu nasehatnya. Patut dipercaya, Ucapan dan nasehatnya, karena penuh hikmah.
Tuan Guru adalah tokoh nasional sekaligus ulama kelas wahid yang sikap dan perilakunya dapat dijadikan teladan bagi kita semua.
Ucapan dan nasihat Tuan Guru, mungkin tak perlu kita bahas. Karena ucapan dan nasehat beliau telah membanjiri kanal-kanal informasi di dunia maya. Namun, sikap dan perilaku Tuan Guru yang patut ditiru, mungkin tak banyak yang merekamannya di dunia maya.
Nah, alhamdulillah selama 5 hari Tuan Guru berada di Kalimantan Barat, saya berkesempatan untuk membersamainya dalam sedikit momen. Saya juga berkesampatan untuk bertukar sekata dua kata dan berdampingan dalam satu dua momen perjalanan atau satu dua momen permakanan (makan-makan maksudnya 🙂 ).
Alhamdulillah, biidznillah.
