in

TUAN GURU YANG PERLU DIGUGU DAN DITIRU

IMG 20201109 WA0027

Oleh: Beni Sulastyo

Guru dalam falsafah nusantara terdefinisikan secara sastrawi lewat kalimat “digugu dan ditiru”.

Dalam bahasa jawa, digugu berarti terpercaya atau bisa dipercaya. Dipercaya ucapanya, dipercaya nasehatnya.

Sementara ditiru berarti diikuti. Diikuti sikapnya, diikuti perilakunya. Bisa menjadi uswah atau teladan bagi siapapun yang melihatnya.

Nah, Tuan Guru Ustaz Abdul Somad (UAS) menurut saya adalah salah satu dari teramat sedikit publik figur nasional yang patut “diguru”, patut digugu dan ditiru. Digugu ucapannya, digugu nasehatnya. Patut dipercaya, Ucapan dan nasehatnya, karena penuh hikmah.

Tuan Guru adalah tokoh nasional sekaligus ulama kelas wahid yang sikap dan perilakunya dapat dijadikan teladan bagi kita semua.

Ucapan dan nasihat Tuan Guru, mungkin tak perlu kita bahas. Karena ucapan dan nasehat beliau telah membanjiri kanal-kanal informasi di dunia maya. Namun, sikap dan perilaku Tuan Guru yang patut ditiru, mungkin tak banyak yang merekamannya di dunia maya.

Nah, alhamdulillah selama 5 hari Tuan Guru berada di Kalimantan Barat, saya berkesempatan untuk membersamainya dalam sedikit momen. Saya juga berkesampatan untuk bertukar sekata dua kata dan berdampingan dalam satu dua momen perjalanan atau satu dua momen permakanan (makan-makan maksudnya 🙂 ).
Alhamdulillah, biidznillah.

Berikut beberapa sikap dan perilaku Tuan Guru yang beruoaya saya rekam agar dapat jadi teladan bagi saya dan kita semua yang mencintainya, beberapa teladan sikap dari seorang ulama sekaligus seorang tokoh fenomenal yang sangat populer seantero nusantara.

  1. Tuan Guru yang Sederhana. Penampilan Tuan Guru itu teramatlah sederhana. Sehari-hari beliau selalu mengenakan pakaian biasa-biasa saja, bukan pakaian branded yang harganya selangit. Kemejanya, kaosnya, celananya, sepatunya, biasa-biasa saja. Persis seperti pakaian yang gunakan oleh masyarakat kebanyakan. Padahal beliau adalah tokoh yang sangat populer, tokoh yang dihormati rakyat dan pejabat. Sebagai seorang ulama beliau lebih senang berpenampilan seperri para ustaz di kampung-kampung, menggunakan baju gamis, syal, celana dan penutup kepala berupa kopiah atau kupluk dari bahan yang biasa biasa saja.
Baca Juga:  Step-1 Planing: Gerakan Wakaf Produktif Pemuda-Remaja Mesjid

Demikianlah kesederhanaan Tuan Guru yang kami saksikan selama 5 hari berada di Kalbar. Suka!

  1. Tuan Guru yang NYANTAI. Tuan Guru itu sejatinya tokoh yang super sibuk. Jadwalnya padat merayap. Tapi dalam kesehariannya, beliau tak tampak perilaku bersikap grasa grusu. Tidak gopoh sama sekali. Jalannya santai. Tolehan kepala dan gerak tubuhnya lembut. Dan selalu menyempatkan diri untuk meyapa orang-orang yang berada di sekitarnya. Seakan-akan beliau sedang menikmati detik-detik yang berputar diantara padatnya jadwal yang menghimpit beliau. Warbiyassah!
  2. Ga ribet. Tuan Guru itu ga banyak permintaan. Ga pernah menuntut fasilitas macam-macam, pake Alphard asik, pake motor mio bahagia. Duduk di hotel bintang lima nyaman, duduk di lantai mushola yang berdebu ga komplain. Pake mikrophone impor anti noise tetap ceramah, disuguhi mic kresek-kresek tetap bicara. Ga ribet. Masyaallah!
  3. Hemat bicara. Kalau diajak diskusi, Tuan Guru lebih memilih mendengarkan. Lebih banyak menyimak. Beliau sangat hemat saat berbicara. Beda dengan kita-kita. Baru punya ilmu sekuku jari kelingking kanan, gayanya sudah seperti orator zaman kemerdekaan. 🙂
  4. Cermat. Tuan Guru sangat cermat saat mendengarkan dan merekam nformasi. Beliau jarang salah saat menyebutkan nama kota, atau nama pesantren yang dikunjungi. Bahkan beliau hafal
    angka tonase beras yang berhasil didistribusikan teman-Paskas di berbagai kota.Masyaallah!
  5. Hormat dengan masyarakat. Setiap membuka ceramah, beliau selalu menyapa tokoh dan alim ulama. Setiap kunjungan ke pesantren beliau selalu memeluk hangat para pemimpinnya. Beliau juga tak pernah menolak saat masyarakat dari berbagai kalangan meminta beliau untuk meresmikan sesuatu atau meminta doa. Semua dihormati dengan tulus.
  6. Gaul. Nah, sikap dan perilaku ini sepertinya sangat jarang dimiliki oleh public figur atau ulama. Tuan Guru itu GAUL. Tuan Guru senang bergaul dengan siapa saja. Dengan anak-anak.muda, dengan para tetua. Dengan komunitas motor besar akrab, dengan komunitas motor kecil dekat. Diajak keliling pake motor besar seharga ratusan juta mau, di ajak bawa beras pake motor harga 8 juta, bersama komunitas sosial suka! Luarbiasa!
  7. Selalu tampak bahagia. Tuan Guru tak pernah menampakan wajah yang tegang. Beliau always rileks, dan selalu bisa memasang senyum di wajahnya. 5 hari perjalanan dengan menggunakan mobil, motor, dan perahu bermotor sangatlah melelahkan. Berbicara berjam-jam di atas mimbar dan berbagai forum diakusi kecil sangatlah menguras tenaga. Tapi tak tampak sedikitlun gurat lelah di wajah Tuan Guru. Alwats happy, always bahagia sentossah. Tabarakallah.
Baca Juga:  Rumah Dinas Sekda ini Dulu Rumah Sultan Hamid

Dan belasan sahabat yang membersamai beliau selama 5 hari di Kalbar dibawah komando Bang Ozzy, semuanya mendapatkan cipratan cahaya bahagia dari Tuan Guru. Demikian pula kami semua. Tabarakllah.

**

Di zaman yang penuh dengan tipuan ini, sikap dan perilaku Tuan Guru menjadi oase. Sikap beliau menbarkan kesejukan dan memberi harapan.

Sikap dan perilaku Tuan Guru ini sungguh patut menjadi teladan bagi kita semua. Menjadi ilmu yang dapat langsung kita amalkan.

Benarlah pepatah yang mengatakan bahwa mengajari satu ketaladanan lebih baik daripada mengajari dengan beribu bacaan.

Panjanglah umur Tuan Guru Ustaz Abdul Somad. Semoga Allah melindungi dan menyayangimu.


Beni Sulastiyo
Pelayan Masjid Kapal Munzaln

Written by teraju.id

munzalan

‘Campin’

IMG 20201110 WA0011

Bayo