Untuk meminimalisir kesalahan, maka kami harus berlatih walau terkadang tanpa pelatih, letih itu pasti tapi kami tak peduli. Lapangan adalah rumah kedua kami, jangan tanya lagi warna kulit yang dinomor sekiankan, walau terkadang ada yang pakai jaket, sarung tangan, masker bahkan helm. Jangan berfikir kalau kami latihan dijalan raya atau di lapangan itu ada polisinya. Tidak ada polisi, mereka memang lebay. Tidak semua hanya 3 orang.
Sebenarnya latihan bukanlah masalah satu-satunya dan bukanlah yang nomor satu. Tapi pengabsenan masalah dan cara kami menyelesaikannya bukanlah bagian dari tulisan ini, yang terpenting adalah hasilnya yakni KEBERSAMAAN. Karena itulah si mulut pedas, si jaim, si alay, si lebay, si tomboy, si hebo, si lola, si air mata, si polos, si ember, si sibuk, si sok bijak, si kalem dan si regilius (nama samaran lebih tepatnya julukan) bisa bersatu untuk mencapai tujuan yang sama. Ya, itulah kenyataannya persatuan terjadi karena adanya kesamaan nasib dan berada dalam situasi yang sama.
Kebersamaan berlanjut melahirkan kekompakan, kami cocok walau karakter kami tak seragam seperti pakaian yang kami kenakan dulu. 2 tahun telah berlalu sejak kami tak mengenakan seragam putih abu-abu tapi kehangatan kebersamaan masih terasa. Karena kami sahabat adalah sosok yang setia menemani dalam suka maupun duka.
Punggur Kecil, 20 Januari 2018
