Kita merujuk Brunei dengan wisata kampung terapungnya. Menyerap ratusan ribu pengunjung saban tahun. Begitu pula waterfront city Kuching dan Singapore. Kita punya Kapuas yang terpanjang di Indonesia dan sangat eksotik. Kaya dengan dederan kisah sejarah bertumpu pada mesjid, madrasah dan pekuburan. Lokasi wakaf para pendahulu yang hatinya terpaut kepada Tuhan Seru Sekalian Alam. Lihat pekuburan Sungai Raja sampai pada pekuburan kesultanan di Batulayang. Semua berada di bibir Kapuas yang indahnya tiada tara. Apalagi saat-saat langit bersepuh emas, temaram di kala senja. Amboy, indahnya tiada tara. Hati pun segera terhubung dengan nilai universal yang dipancarkan energi ilahiah. Energi adikuasa milik Tuhan.

Adalah seorang anak muda bernama Beni Thanheri. Dia alumni Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Ia pegiat sosial masyarakat dengan episentrum lingkungan hidup. Di tangannya yang bungas, dia berhasil menghidupkan Kampung Mendawai–tepian Kapuas dengan kearifan lokal memproduksi caping atau bahasa lokal setempat memproduksi tudong. Tudong telah menghidupi masyarakat setempat turun-temurun. Dari generasi ke generasi.

Sentuhan bidas Beni Thanheri menggeliatkan pandangan mata pemerintah dan tokoh masyarakat lokal. Lebih dari 20 stakeholder turun tangan. Rumah tua yang hendak roboh pun telah dipindai dengan perwakafan.

Kini rumah tua itu hendak dibangun sebagai Rumah Budaya Kota Pontianak. Di sebelahnya ada tanah wakaf yang lain lagi dan hendak dibangun sebagai Rumah Tahfidz.

Mendawai sangat dekat dengan wakaf pendidikan terbesar kawasan Kampung Bangka, yakni Perguruan Islamiyah. Di sana telah lahir banyak ulama maupun cerdik cendikia. Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan, SH salah satu alumninya.