Kemudian seperti yang diungkapkan Najwa Shihab selaku duta baca Indonesia 2016-2020, “kita adalah sebuah bangsa besar, jika tanpa budaya literasi hanya akan menjadikan bangsa ini berkelas teri, pencaki maki, mudah terprovokasi, tanpa keluasan hati dan imajinasi.”
Perkara yang sangat miris, bangsa besar semacam Indonesia justru miskin literasi, miskin kemampuan baca tulisnya. Tidak sampai di situ saja, Najwa Shihab kemudian mengatakan, dari data yang ia dapatkan “persentase Indonesia di dunia baca adalah 0,001 %.” Ini berarti dari 1000 orang Indonesia hanya 1 orang saja yang membaca.
Data di atas memberikan pemahaman terhadap kita bahwa Indonesia merupakan negara yang malas membaca, padahal seperti yang kita ketahui membaca memberikan banyak sekali manfaat terhadap kapasitas kecerdasan. Sebagaimana diungkapkan Sunindyo (1976: 2), ia mengatakan bahwa membaca sangat bermanfaat karena: dapat mengisi waktu luang dengan kesibukan yang berguna, menambah pengetahuan, meningkatkan keterampilan yang berhubungan dengan hobi, olahraga, dan seni yang sesuai dengan keperluannya sendiri, dapat mengembangkan watak dan perilaku yang baik, serta memanfaatkan perpustakaan-perpustakaan yang ada dalam masyarakat.
Pernyataan Sunindyo tersebut jelas membuktikan bahwa membaca bukanlah perkara membuang waktu semata, akan tetapi banyak manfaat yang dapat kita ambil dari membaca.
Oleh karena itu, mari gerakkan hati kita untuk mulai mencintai buku. Lantas bagaimana caranya menumbuhkan minat baca dalam diri sendiri? Apakah mungkin seseorang yang sama sekali tidak menyukai membaca bisa menjadi gemar membaca? Mungkin itu sederet pertanyaan yang terlintas di benak kita.
