Saya bertanya kepada peserta, bila ada segelas kopi dalam gelas, bagaimana caranya agar kopi itu berkurang atau menghilang tanpa menumpahkannya?

Jawaban peserta bisa macam-macam. Ada yang bilang meminumnya. Ada yang berusaha membuat kopi ini menjadi campuran kue. Ada yang diam, tak menjawab.

Tak tega melihat peserta berlama-lama dalam kebingungan. Saya menjawab…

Bila kopi itu kita ibaratkan ujaran kebencian, hoax, pornografi, scam, dll, maka posisi terbaik kita ialah menuangkan sebanyak mungkin air putih ke dalamnya. Berlomba dengan penuang kopi, hingga air kopi tumpah dan air putih memenuhi gelas tersebut lalu menjadi pemenangnya.

Mengapa kita tidak langsung menumpahkan kopi atau mencegah si penuang kopi? Harus diakui, peran itu ada pada kepolisian lewat divisi Cyber Crime-nya. Kita tidak mempunyai otoritas untuk mengambil posisi tersebut. Posisi kita apple to apple dengan penuang kopi: penuang air putih.

Nah, sebagai penuang air putih itulah saya menghimbau pada peserta untuk menggelontorkannya dengan tulisan-tulisan bermutu, status-status positif dan foto-foto terbaik di sosial media.

Tuang status dan tulisan tersebut sebanyak-banyaknya. Sesering-seringnya. Hingga penuang kopi lelah dan kalah.

Bayangkan, bila semua kondisi ideal itu tercapai, wajah beranda sosial media kita tidak lagi penuh air mata, degup permusuhan dan ujaran kebencian.

Dan, saat Facebook bertanya kepada kita, “apa yang anda pikirkan?” Maka, kita menjawab dengan bahagia, “mau tau aja atau mau tau banget?”