Ruas jalan tak banyak yang kering. Hujan turun mengguyur bumi Kalbar. Beberapa kali kaca mobil kami disemprot air akibat berpapasan dengan mobil berbadan besar nan melaju kencang. Suara dan gemuruhnya menjadi sensasi tersendiri. Namun kami merasa aman karena Moko lihai mengendalikan kendaraan.Kondisi jalan pun mulus.

Tempo doeloe, kendaraan sulit melaju kencang, karena dipenuhi lubang. Sejurus waktu terakhir, warga Hulu berkata lirih, “Dari Putussibau kami bisa pejam mata sampai ke Pontianak.” Maksudnya jalanan dalam kondisi fit dan mantap.

Karena jalanan mulus, jarak wilayah Timur ke Kota Pontianak biasanya 9 jam perjalanan normal (Sintang-Pontianak), kini bisa dua jam lebih hemat. Bahan bakar pun lebih irit. Banyak hal terasa hemat.

Dalam limit waktu 6 jam sejak bergerak dari Kota Pontianak, kami sudah tiba di Balai Karangan. Kami inap di Hotel Prambanan. Prambanan ini hotel satu-satunya yang paling refresentatif. Adapun hotellainnya dalam kondisi “hidup segan, mati tak mau”. Harap maklum. Kondisi level kecamatan.

Hotel Prambanan penuh. Syukurnya BNPP sudah order lebih awal. Sungguh pun demikian, kami hanya dapat tiga kamar. Agus, saya dan kameramen Huntung Dwiyani, terpaksa inap dalam satu kamar. Bisnis penginapan adalah sisi lain ekonomi perbatasan yang menarik. Siapa yang merawat fasilitas penginapannya dengan baik dan professional, maka di sinilah tamu pilih istirahat dengan nyaman.

***

Saya, Huntung dan Agus menginap di lantai dua. Posisi strategis berhadapan dengan jalan raya. Kamar ini seperti kamar hotel lainnya memiliki pesawat tivi, pendingin ruangan, dan handuk plus pasta gigi.