Dari bangsal atap, saya dapat melihat kendaraan melintas. Terlihat pekerja di berbagai kawasan. “Di sana sedang dibangun Wisma Indonesia,” kata Kepala PLBN Vicktor. Menurut rencana Gedung Wisma Indonesia akan diresmikan pada tahun 2019.
“Wisma Indonesia akan menjadi tempat inap sejumlah staf di PLBN,” kata Agus. Sementara sebelum gedung selesai, kebanyakan staf menginap di bangunan yang diperuntukkan sebagai kafe PLBN. “Termasuk Pak Vicktor masih inap di salah satu kamar Kafe,” ungkap Agus seraya senyum.
Puas berada di PLBN Entikong kami bergerak ke UMKM Binaan BNPP. Di sekretariat UMKM ini tersaji berbagai makanan khas seperti kerupuk, kopi lada hitam, kopi jahe merah, termasuk berbagai kerajian kayu kapuak.
Ibu Ayu adalah ketua sekaligus pegiat pengrajin di border. “Di sini sangat produktif lada hitam. Maka saya inovasikan dengan kopi,” kata Ayu.

Melalui kerajinan UMKM, nilai jual “intan” berharga kawasan perbatasan meningkat. “Harga lada hasil panen per Kg saat ini hanya Rp 20.000. Tapi setelah diolah menjadi kopi lada hitam per kemasan sudah bisa mencapai Rp 40.000,” timpal Ayu.
Lada hitam juga banyak manfaat kesehatannya. “Kami berencana membuka gerai khusus lada hitam di Kota Pontianak,” kata Ayu menjelaskan rencana pengembangannya.
Saya turut menikmati suguhan kopi panas lada hitam dan jahe merah. Rasanya “uenaaaak tenan….”. Ngopi tak lari ke lain hati lagi. Kopi UMKM khas perbatasan…
Tak berhenti sampai di sini. Saya juga mengeksekusi beberapa kg kopi lada hitam dan kopi jahe merah sebagai oleh-oleh sekaligus insentif motivasi agar UMKM kita maju ke depan.
***
