“Saya neh ngetopnya dipanggil Yayuk Sulam,” tambahnya menegaskan.
Menurutnya sudah ada beberapa orang yang berminat membeli hasil sulaman berjudul 8 Dewa tersebut, hanya saja ia baru benar-benar bertemu pembeli yang pas semalam, pembeli yang pas itu adalah orang yang datang bertanya dengannya penuh santun tak ada kesan sombong. “Saya ini pekerja seni,” selorohnya. Menurutnya menjual karya itu bukan soal mendapat keuntungan saja, yang terpenting dari itu adalah penghormatan serta penghargaan calon pembeli pada sang pembuatnya yang tergambar dalam komunikasi dengan sang penyulam itu sendiri, yaitu ibu Yayuk Sulam. Bahkan hasil penjualan Sulaman 8 Dewa yang dibuatnya dalam waktu 2 tahun 12 hari tersebut akan didonasikannya bagi korban gempa dan tsunami Palu.

Di stand pameran miliknya yang tampak lebih luas dari ukuran stand-stand lain ini juga memajang hasil sulamannya yang lain berukuran lebih kecil. Namun semua tak kalah indahnya dengan 8 Dewa, semua tampak rapi dan cantik.

Menurutnya, ia tak pernah mau menerima pesanan atas karya sulamnya, ia ingin berkarya secara alamiah, mengalir saja, ia tidak suka deadline yang kerap diterapkan sang pemesan. Selain itu ia akan menyulam hal-hal yang ia sukai saja.

Hal ini memang tampak jelas atas semua karya yang dipamerkannya, ia suka kucing maka ia menyulam beberapa ekor kucing dengan warna-warna indah. Demikian pun dengan bunga-bunga di vas yang saya perhatikan, tak perlu bertanya lagi saya yakin ini karena Bu Yayuk Sulam juga suka pada bunga.