Sementara itu  Communications Specialist Kemitraan- bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (“Partnership”), Alexander Mering yang turut membantu mengedit novel, dan juga mempromosikannya kepada sejumlah pihak mengatakan bahwa Novel PDT ini menjadi menarik karena ditulis dari beberapa sudut pandang sekaligus. Bukan hanya dari sudut pandang SAD sebagai tokoh utama cerita, tetapi juga dari sudut para aktivis NGO, suara korporasi yang ditunding paling bertanggung jawab terhadap nasib SAD saat ini, dan bahkan membandingkannya dengan nasib suku Dayak di Kalimantan Barat—yang kondisinya tak jauh berbeda—di mana Paul tumbuh besar menjadi penulis.

Mering mengatakan, tentu tidak mudah bagi Paul untuk benar-benar bisa masuk atmosfir SAD yang dia tulis karena belum pernah bertemu para tokoh ceritanya. Belum lagi soal bahasa, membangun dialog, karakter para tokoh cerita, lengkap dengan pribahasanya.

“Tapi bukankah Karl Friedrich May yang lahir di Jerman juga tidak pernah ke perkampungan orang Indian di bagian baraf Boffalo atau ke Newyork, ketika menulis kisah pertualangan Winnetou?” tegas Mering.

Saat ini kata Mering, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang terkait untuk endorsement dan juga rencana launching. Dia mengharapkan kegiatannya dapat dilaksanakan bertepatan dengan malam amal penggalangan dana untuk SAD yang dilaksanakan oleh SSS Pundi Sumatera, pada minggu ketiga September 2016.

Baik pihak penulis maupun penerbit, PT. TOP Indonesia telah setuju menghibahkan sebagian hasil penjualan novel ini untuk disumbangkan pada malam amal tersebut.

Bagi anda yang ingin ikut melakukan donasi dan memesan Novel PDT ini silahkan order di link ini.**