Apa yang bisa kita pelajari dari terbakar/dibakarnya Istana Rakyat di sejumlah daerah di Tanah Air?

Wakil rakyat tidak menerima kedatangan mereka? Kenapa tak disambut? Takutkah? Kenapa takut? Ada salahkah? Kenapa salah? Ada yang kelirukah saat pemilu? Suara dibelikah? Sehingga yang duduk adalah mereka yang tak punya integritas. Orang yang berintegritas tak akan takut menerima kedatangan tetamu. Sebab awak datang kami sambot. Keci’ telapak tangan nyiru’ kame’ tadahkan. Dan tamu yang baik selalu datang nampak muka pulang nampak punggung. Tak akan mereka menusuk apalagi membakar kecuali penyusup. Penyusup ini wajib ditangkap. Dialah provokator…

Teori fisika sosial: jika katup terbuka, maka tekanan sekeras apapun akan ada salurannya. Namun jika katup tertutup, tekanan pada titik tertentu pasti akan memecahkan tabung. Meledak. Inilah yang terjadi kini…

Solusi: Wakil rakyat atau wakil pemerintah mesti instrospeksi diri. Apakah sudah melayani rakyat dengan jurdil?

Kalau kantor polisi jadi sasaran juga instrospeksi diri. Apakah selama ini sudah jurdil? Bukan backing pihak tertentu? Backing judi? Backing mafia?

Mari introspeksi…

Kalau pajak dikejar-kejar terus, sementara lapangan kerja sempit, dimana pemerintah tak bisa melebarkan peluang sempit itu yang terjadi adalah penjarahan…

Introspeksi. Indonesia ini kaya. Mari distribusikan kekayaan negara itu dengan jurdil. Jangan dikuasai 60 KK saja dari NKRI yang luasnya melebihi daratan Eropa dengan belasan jumlah negara…

Yuk cooling down. Lembutkan hati. Jernihkan pikiran. Jurdillah dalam tindakan dan perbuatan…

Masing masing kita akan tahu lewat suara hati, apakah selama ini kita berada di jalan yang lurus atau bengkok?

Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia pasti berada di dalam kerugian. Kecuali mereka beriman (Pancasila sila 1 Ketuhanan Yang Maha Esa). Dan mereka mengerjakan kebaikan (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia). Dan mereka saling ingat-mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran (check and richeck jangan hoaks pun ditelan mentah-mentah).

Kembalilah kepada Pancasila. Bhinneka Tunggal Ika.

Kembalilah pada nilai nilai luhur ajaran agama.

Contoilah para Nabi.

Dunia ini singkat. Mari tinggalkan dengan legacy terbaik bagi anak cucu. Negeri yang adil dan makmur. Bukan arang berserakan diliputi debu. *