Sedari kecil kami diajar haus akan ilmu. Termasuk Latin untuk Belajar Bahasa Inggris. Juga kanji untuk belajar bahasa Mandarin. Tidak ada kamus memusuhi bahasa. Karena bahasa adalah budaya. Budaya tertinggi malahan. Kita bisa melihat ketinggian suatu budaya bangsa ya dari bahasanya. Dari pribahasanya. Dari serat sastranya.
Bahasa Melayu identik dengan Arab. Identik dengan lingua franca. Identik dengan bahasa persatuan. Bahkan kini tergolong Bahasa Internasional. Menyatukan dunia pula.

Kita harus bangga. Dan tahu sejarah Sumpah Pemuda. Tahu sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tahu kesaktian Pancasila. Tahu reformasi total. Termasuk reformasi total sumpah serapah dan hoaks kepada akhlakul karimah. Budi pekerti mulia yang ibarat PanTun (Sopan dan Santun).

istana

Satu kesatuan sejarah ini ada di Bumi khaTULIStiwa. Jejak kesejarahannya pun ada. Lihat tebing layar Istana Qadriyah. Aksara yang dipergunakan adalah Arab Melayu. Telah terpatri sejak 1771. Itu pula yang diadopsi sebagai aksara dwilingual nama Jalan Tanjung Raya. Itu pula yang diadopsi Rumah Melayu. Tidaklah ada yang kliru abang, kakak, bapak-ibu. Jika kita tarik dari sosiologi historisnya sudah hadir dan mengalir sepanjang Kapuas sejak tempo doeloe. Aksara bilingual ini justru lebih kental di Sambas, Ketapang dan Sintang. Begitulah adanya. Kita semua perlu tahu aspek historis dan akademis itu. *