Aku menuju kelemari untuk mengambil dompet. Reusleting kubuka hanya ada beberapa lembar uang. Saat dihitung 5.000 rupiah saja. Mau dibelikan pulsa tidak cukup. Aku merenung sebentar, memikirkan nasib untuk beberapa hari.
Kemudian aku bangkit dari dudukku, aku bawa uang Rp5000 itu ke lantai bawah. Aku menuju kamar Dayang Yuni Astuti untuk membeli pulsa kepadanya. Sampai di sana, aku menyapa dia. Dia sedang berada di balkon belakang tengah menjemur pakaian. Yuni menyuruh masuk, dan menunggunya menyelesaikan jemuran. Yuni bertaya, “Ada apa nih tumben kesini pagi banget?”
Aku tersenyum penuh malu, “Aku ingin membeli pulsa 5000”.
Kemudian aku menceritakan semuanya kepada Yuni, kalau aku belum mendapat kiriman. Maksud aku ke sana untuk membeli pulsa. Karena duit yang aku bawa kurang aku berniat untuk berhutang. Hutang 2000 saja.
Yuni tertawa seolah penuh kegelian. Aku bertanya-tanya dalam hati, “Kenapa Yuni tertawa?”
Setelah dia mengirim pulsa ke nomorku, aku memberikan uang 5000 kepadanya. Kemudian dia mengembalikan uang itu kepadaku, “Sudahlah ambil saja, simpan untuk membeli makanan. Aku ikhlas.”
Aku sagat malu, dan aku mengatakan, “Apa yang dapat aku berikan untuk membayar segala kebaikan yang kamu berikan.”
Dia malah tambah tertawa. Memang sih terdengar lebai. “Udahlah ambil saja,” katanya lagi.
Aku mengatakan terima kasih, banyak-banyak terimakasih. Terus Yuni bilang sambil tertawa lepas “Ucapan terima kasihmu sudah menghiburku, dan sudah membayar pulsa dengan ucapan terima kasih”.
Benar-benar mengejutkan. Dan menjadi pengalaman yang luar biasa.(Penulis Mahasiswa BKI IAIN Pontianak)
